KEISLAMAN

Adab Berbuka Puasa Rasulullah

Yahya Sukamdani| Kamis, 19/02/2026
Meneladani adab berbuka Nabi demi puasa penuh berkah. Ilustrasi menunggu waktu buka puasa (Foto:viva)

Terasmuslim.com - Berbuka puasa adalah momen yang dinanti setiap Muslim setelah seharian menahan lapar dan dahaga. Namun dalam Islam, berbuka bukan sekadar melepas rasa haus, melainkan ibadah yang memiliki adab dan tuntunan. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Baqarah: 187, “Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam.” Ayat ini menjadi dasar bahwa berbuka dilakukan ketika matahari telah terbenam. Rasulullah SAW mencontohkan agar umatnya tidak menunda-nunda berbuka ketika waktunya telah tiba.

Adab pertama yang dicontohkan Rasulullah SAW adalah menyegerakan berbuka. Dalam hadis riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim disebutkan, “Manusia akan senantiasa dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.” Sunnah ini menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang memudahkan, bukan mempersulit. Menunda berbuka tanpa alasan syar’i justru menyelisihi tuntunan Nabi SAW.

Adab berikutnya adalah berbuka dengan sesuatu yang manis dan sederhana. Dalam hadis riwayat Abu Dawud disebutkan bahwa Rasulullah SAW berbuka dengan ruthab (kurma basah), jika tidak ada maka dengan kurma kering, dan jika tidak ada maka dengan seteguk air. Ini menunjukkan kesederhanaan dan hikmah kesehatan. Kurma mengandung energi cepat yang membantu tubuh pulih setelah berpuasa, sementara air menyegarkan dan menghidrasi tubuh.

Selain itu, Rasulullah SAW mengajarkan doa ketika berbuka. Dalam riwayat Abu Dawud disebutkan doa: “Dzahaba zhama’u wabtallatil ‘uruq wa tsabatal ajru insya Allah” (Telah hilang dahaga, urat-urat telah basah, dan pahala telah ditetapkan insya Allah). Doa ini bukan sekadar lafaz, tetapi ungkapan syukur atas nikmat Allah SWT yang memberi kekuatan menjalani puasa. Waktu berbuka juga termasuk waktu mustajab untuk berdoa.

Adab lain yang penting adalah tidak berlebihan saat berbuka. Rasulullah SAW dikenal sebagai pribadi yang menjaga keseimbangan dalam makan. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Ahmad bin Hanbal disebutkan bahwa tidak ada wadah yang lebih buruk dipenuhi oleh manusia selain perutnya. Prinsip ini relevan saat berbuka, ketika nafsu makan memuncak. Islam mengajarkan agar berbuka secukupnya, agar tubuh tetap ringan untuk melaksanakan shalat Maghrib dan ibadah malam.

Akhirnya, berbuka puasa adalah momentum syukur dan kebersamaan. Rasulullah SAW juga menganjurkan memberi makan orang yang berbuka, karena pahalanya besar tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa. Nilai sosial dan spiritual ini menegaskan bahwa Ramadan bukan hanya tentang menahan diri, tetapi juga tentang berbagi dan memperkuat ukhuwah. Dengan meneladani adab berbuka Rasulullah SAW, puasa tidak hanya sah secara syariat, tetapi juga indah dalam praktik dan penuh keberkahan.

 
 
 
TAGS : tata cara berbuka hadist berbuka dalil iftar

Terkini