
Ilustrasi foto belajar agama
Terasmuslim.com - Al-Qur’an adalah wahyu Allah SAW yang terjaga keasliannya sejak diturunkan kepada Muhammad SAW hingga hari ini. Allah sendiri menegaskan dalam Surah Al-Hijr ayat 9 bahwa Dialah yang menurunkan Al-Qur’an dan Dia pula yang menjaganya. Selama lebih dari empat belas abad, kitab suci ini dihafal, dipelajari, dan diamalkan oleh kaum muslimin di berbagai penjuru dunia. Maka anggapan bahwa Al-Qur’an tidak lagi relevan sejatinya lahir dari cara berpikir yang menempatkan akal di atas wahyu.
Islam tidak pernah menafikan fungsi akal. Bahkan, Al-Qur’an berulang kali memerintahkan manusia untuk berpikir, merenung, dan mengambil pelajaran. Namun kedudukan akal dalam Islam adalah sebagai alat untuk memahami dan membenarkan wahyu, bukan sebagai hakim yang menilai benar atau salahnya firman Allah. Ketika akal diposisikan sebagai penguasa atas wahyu, maka ia mudah terjebak dalam keterbatasan perspektif manusia yang sempit dan berubah-ubah.
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Ahzab ayat 36 bahwa tidak pantas bagi seorang mukmin dan mukminah, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, masih ada pilihan lain bagi mereka dalam urusan itu. Ayat ini menjadi prinsip dasar dalam hubungan antara iman dan akal. Seorang mukmin boleh mencari hikmah dan memahami makna suatu perintah, tetapi tidak berhak menolak atau menggugatnya hanya karena belum mampu menjangkaunya secara rasional.
Sejarah pemikiran Islam menunjukkan bahwa ketika sebagian kelompok mendahulukan logika di atas nash, muncullah berbagai penyimpangan dalam aqidah dan hukum. Padahal para ulama Ahlus Sunnah menegaskan bahwa akal yang sehat tidak mungkin bertentangan dengan wahyu yang sahih. Jika tampak ada pertentangan, maka yang perlu ditinjau kembali adalah pemahaman manusia, bukan wahyu itu sendiri.
Wahyu bersumber dari Allah Yang Maha Mengetahui, sedangkan akal manusia bersifat terbatas dan terikat ruang serta waktu. Apa yang dianggap tidak relevan hari ini bisa jadi justru menjadi solusi di masa mendatang. Oleh karena itu, relevansi Al-Qur’an tidak diukur oleh tren pemikiran manusia, melainkan oleh kebenaran mutlak yang dibawanya. Al-Qur’an bukan produk zaman, tetapi petunjuk bagi seluruh zaman.
Maka marilah kita menundukkan akal dengan iman, bukan mematikannya, tetapi mengarahkannya. Gunakan akal untuk tadabbur, menggali hikmah, dan memperdalam keyakinan terhadap wahyu. Mohonlah kepada Allah agar dianugerahi hati yang tunduk dan akal yang jernih, sehingga keduanya bersinergi dalam menerima dan mengamalkan kebenaran, bukan untuk menentangnya.
TAGS : akal dan wahyu iman dan rasionalitas