KEISLAMAN

Menolak Kebenaran Meski Mengenalnya

Yahya Sukamdani| Minggu, 08/02/2026
Kaum Quraisy menolak dakwah Nabi Muhammad SAW bukan karena tak mengenal kebenaran, melainkan karena kesombongan, fanatisme tradisi, dan takut kehilangan kekuasaan. Ilustrasi ulama menyampaikan dakwah

Terasmuslim.com - Sejarah dakwah Nabi Muhammad SAW di Makkah mencatat dengan jelas bagaimana kaum Quraisy menunjukkan sikap penolakan keras terhadap risalah tauhid. Penolakan itu bukan karena mereka tidak mengenal pribadi Nabi, justru sebaliknya. Sejak sebelum kenabian, Muhammad SAW dikenal sebagai Al-Amîn orang yang paling jujur dan terpercaya. Namun ketika beliau mengajak mereka meninggalkan kesyirikan dan menyembah Allah semata, mayoritas pemuka Quraisy memilih menentang.

Al-Qur’an mengungkap bahwa penolakan kaum Quraisy bukan karena keraguan terhadap kebenaran wahyu, melainkan karena kesombongan dan kepentingan duniawi. Allah berfirman: “Sesungguhnya mereka tidak mendustakanmu, tetapi orang-orang yang zalim itu mengingkari ayat-ayat Allah.” (QS. Al-An‘am: 33). Ayat ini menegaskan bahwa secara batin mereka mengakui kebenaran dakwah Nabi SAW, namun enggan tunduk karena takut kehilangan pengaruh, kekuasaan, dan tradisi nenek moyang.

Sikap fanatisme terhadap adat dan leluhur menjadi penghalang terbesar bagi mereka. Berkali-kali Al-Qur’an merekam jawaban kaum Quraisy: “Sesungguhnya kami mendapati nenek moyang kami menganut suatu agama, dan kami hanya mengikuti jejak mereka.” (QS. Az-Zukhruf: 22). Mereka lebih memilih mempertahankan kebiasaan lama meski jelas bertentangan dengan akal sehat dan wahyu Ilahi.

Penolakan itu kemudian berubah menjadi permusuhan terbuka. Nabi SAW dan para sahabat mengalami cemoohan, boikot ekonomi, penyiksaan, hingga rencana pembunuhan. Allah mengabadikan sikap meremehkan mereka dalam firman-Nya: “Dan mereka berkata, ‘Mengapa Al-Qur’an ini diturunkan kepada seorang besar dari salah satu dua negeri ini?’” (QS. Az-Zukhruf: 31). Mereka memandang dakwah bukan dari kebenaran risalahnya, melainkan dari status sosial pembawanya.

Meski menghadapi penentangan hebat, Rasulullah SAW tetap berdakwah dengan kesabaran dan akhlak mulia. Beliau tidak membalas keburukan dengan keburukan, tetapi dengan doa dan keteguhan iman. Hal ini sejalan dengan sabda beliau: “Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad). Pada akhirnya, sikap keras kaum Quraisy menjadi pelajaran abadi bahwa menolak kebenaran sering kali bukan karena kurangnya bukti, melainkan karena hati yang tertutup oleh kesombongan dan cinta dunia.

TAGS : kafir quraisy dakwah Nabi Muhammad fanatisme jahiliyah

Terkini