KEISLAMAN

Sikap Berlebih-lebihan kepada Orang Saleh

Yahya Sukamdani| Sabtu, 31/01/2026
Menghormati orang saleh adalah ajaran Islam, namun sikap berlebihan dalam memuliakan mereka dapat menjadi pintu awal kesyirikan. Ilustrasi foto mengangungkan ulama

Terasmuslim.com - Sikap berlebih-lebihan (ghuluw) kepada orang saleh adalah salah satu penyimpangan dalam beragama yang telah diperingatkan dalam Islam. Mencintai dan menghormati orang saleh merupakan bagian dari iman, namun jika dilakukan secara berlebihan hingga melampaui batas syariat, maka hal itu dapat menjerumuskan pada kesesatan. Allah berfirman, “Wahai Ahlul Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu” (QS. An-Nisa: 171). Ayat ini menjadi peringatan umum agar umat tidak bersikap ekstrem dalam memuliakan makhluk.

Sejarah umat terdahulu menunjukkan bahwa kesyirikan bermula dari sikap berlebihan terhadap orang-orang saleh. Allah mengisahkan kaum Nabi Nuh ‘alaihissalam yang terjerumus dalam syirik karena mengagungkan orang saleh mereka seperti Wadd, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq, dan Nasr (QS. Nuh: 23). Awalnya hanya untuk mengenang dan menghormati, namun lama-kelamaan berubah menjadi penyembahan. Kisah ini menjadi pelajaran besar agar umat Islam tidak mengulangi kesalahan yang sama.

Rasulullah SAW secara tegas melarang sikap berlebih-lebihan dalam memuji dan mengagungkan manusia, meskipun terhadap beliau sendiri. Nabi SAW bersabda, “Janganlah kalian berlebih-lebihan memujiku sebagaimana kaum Nasrani berlebih-lebihan memuji Isa putra Maryam. Sesungguhnya aku hanyalah seorang hamba, maka katakanlah: hamba Allah dan Rasul-Nya” (HR. Bukhari). Hadis ini menegaskan bahwa pengagungan yang berlebihan dapat menggeser tauhid.

Sikap ghuluw kepada orang saleh bisa muncul dalam bentuk keyakinan bahwa mereka memiliki kekuatan gaib, dapat mengabulkan doa, atau menjadi perantara yang harus dimintai pertolongan. Padahal, Allah menegaskan, “Dan sesungguhnya masjid-masjid itu milik Allah, maka janganlah kamu menyembah seorang pun di dalamnya selain Allah” (QS. Al-Jin: 18). Ayat ini menutup segala bentuk penghambaan dan permohonan kepada selain Allah.

Baca juga :

Islam mengajarkan keseimbangan dalam menyikapi orang saleh: mencintai, menghormati, dan meneladani akhlaknya tanpa mengkultuskannya. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian binasa karena sikap berlebih-lebihan mereka dalam agama” (HR. Ahmad dan An-Nasa’i). Hadis ini menunjukkan bahwa ghuluw bukanlah bentuk ketaatan, melainkan sebab kehancuran umat.

Oleh karena itu, menjaga kemurnian tauhid adalah kewajiban utama setiap Muslim. Menghormati ulama dan orang saleh harus dibingkai dengan dalil dan tuntunan syariat. Semua manusia, seberapa pun salehnya, tetaplah hamba Allah yang tidak berhak disembah atau dimintai perkara gaib. Dengan memahami batasan ini, umat Islam akan selamat dari kesyirikan dan tetap berada di atas jalan yang lurus.

TAGS : bahaya mengkultuskan ulama kesyirikan tauhid Islam ghuluw

Terkini