
Ilustrasi - sosok putri Nabi Muhammad SAW (Foto: AI)
Terasmuslim.com - Fathimah radhiyallahu ‘anha, putri Rasulullah SAW, hidup dalam kesederhanaan yang jauh dari kemewahan dunia. Ia menjalani hari-harinya tanpa kasur empuk dan permadani mewah, bahkan sering merasakan beratnya pekerjaan rumah hingga tangannya kasar.
Namun, kesederhanaan itu tidak mengurangi kemuliaannya sedikit pun. Rasulullah SAW bersabda: “Fathimah adalah bagian dariku, siapa yang menyakitinya berarti telah menyakitiku” (HR. Bukhari dan Muslim), menunjukkan betapa mulianya kedudukan Fathimah di sisi Allah dan Rasul-Nya.
Kemuliaan Fathimah bukan karena harta atau fasilitas hidup, melainkan karena keimanan, kesabaran, dan ketaatannya. Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertakwa” (QS. Al-Hujurat: 13). Ayat ini menjadi tolok ukur kemuliaan dalam Islam, dan Fathimah radhiyallahu ‘anha adalah contoh nyata dari kemuliaan yang lahir dari takwa, bukan dari kemewahan.
Dalam sebuah riwayat, ketika Fathimah meminta pembantu karena beratnya pekerjaan rumah, Rasulullah SAW tidak memberinya hamba, tetapi mengajarkan dzikir yang lebih baik baginya. Beliau bersabda: “Maukah aku ajarkan kepada kalian sesuatu yang lebih baik dari seorang pembantu?” lalu beliau mengajarkan tasbih, tahmid, dan takbir sebelum tidur (HR. Bukhari dan Muslim). Hadits ini menegaskan bahwa kekuatan sejati bagi seorang mukmin terletak pada kedekatan dengan Allah, bukan pada kenyamanan dunia.
Fathimah radhiyallahu ‘anha memahami bahwa ridha Allah dan Rasul-Nya adalah tujuan utama hidup. Allah SWT berfirman: “Dan keridhaan Allah itu lebih besar” (QS. At-Taubah: 72). Ridha Allah adalah puncak kebahagiaan yang tidak bisa digantikan oleh kemewahan apa pun. Kesederhanaan yang dijalani Fathimah justru menjadi saksi keteguhan imannya.
Keteladanan Fathimah radhiyallahu ‘anha mengajarkan bahwa kemuliaan sejati tidak diukur dari apa yang dimiliki, tetapi dari siapa yang diridhai Allah. Di tengah budaya yang mengagungkan kemewahan, kisah Fathimah menjadi pengingat bahwa hidup sederhana dengan iman dan ketaatan jauh lebih mulia daripada hidup mewah tanpa ridha Allah dan Rasul-Nya.