
Ilustrasi talqin sebelum meninggal
Terasmuslim.com - Waktu adalah nikmat Allah yang paling cepat berlalu namun paling sering dilalaikan manusia. Setiap detik yang berjalan sejatinya bukan menambah usia, melainkan mengurangi jatah hidup yang telah ditetapkan. Allah SWT mengingatkan manusia dengan sumpah-Nya: “Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian” (QS. Al-‘Ashr: 1–2). Kerugian itu terjadi ketika waktu tidak diisi dengan iman dan amal shalih.
Bertambahnya usia sering disalahartikan sebagai tambahan kesempatan, padahal hakikatnya adalah semakin dekat dengan ajal. Allah SWT berfirman: “Setiap umat mempunyai ajal. Apabila ajalnya tiba, mereka tidak dapat menundanya barang sesaat pun dan tidak pula memajukannya” (QS. Al-A‘raf: 34). Ayat ini menegaskan bahwa kematian bukan soal kemungkinan, tetapi kepastian yang terus mendekat seiring berlalunya waktu.
Manusia kerap merasa kematian masih jauh, padahal Al-Qur’an menegaskan: “Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati” (QS. Ali ‘Imran: 185). Kematian tidak mengenal usia, sehat atau sakit, muda atau tua. Kesadaran akan dekatnya kematian seharusnya melahirkan sikap waspada dalam hidup, bukan ketakutan, melainkan kesiapan menghadapi pertemuan dengan Allah.
Rasulullah SAW mendorong umatnya agar tidak terlena oleh panjang angan-angan dunia. Beliau bersabda: “Perbanyaklah mengingat pemutus segala kenikmatan (kematian)” (HR. Tirmidzi). Mengingat kematian akan memendekkan angan-angan, melembutkan hati, dan mendorong seseorang untuk memperbaiki amal sebelum waktu benar-benar habis.
Islam mengajarkan bahwa orang cerdas bukanlah yang paling lama hidup, melainkan yang paling baik memanfaatkan waktunya. Rasulullah SAW bersabda: “Orang yang cerdas adalah orang yang menghisab dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah mati” (HR. Tirmidzi). Selama waktu masih berjalan dan usia belum habis, pintu taubat dan amal shalih masih terbuka. Namun ketika ajal tiba, yang tersisa hanyalah penyesalan atas waktu yang terbuang.