
Ilustrasi istri marah soal nafkah
Terasmuslim.com - Dalam perspektif Islam, istri yang tidak mau dinasehati, enggan memperbaiki diri, tidak bersyukur atas nafkah berapapun yang diberikan, serta selalu menyalahkan suami tentang rezeki termasuk tipe manusia yang lalai dari tazkiyatun nafs (penyucian jiwa) dan lemah dalam adab iman. Allah memerintahkan orang beriman untuk saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran (QS. Al-‘Ashr: 1–3). Penolakan terhadap nasihat bukan sekadar persoalan komunikasi, tetapi pertanda hati yang tertutup dari kebenaran.
Rasulullah ﷺ secara tegas memperingatkan tentang bahaya kufur nikmat kepada pasangan. Dalam hadits shahih riwayat Bukhari dan Muslim, Nabi ﷺ menyebutkan bahwa banyak penghuni neraka adalah perempuan yang kufur terhadap kebaikan suami—yakni mengingkari pemberian dan jasa meski telah banyak menerima kebaikan. Sikap tidak bersyukur, selalu mengungkit kekurangan, dan melupakan kebaikan suami mencerminkan akhlak yang rusak dan menghapus keberkahan dalam rumah tangga.
Islam juga menegaskan bahwa rezeki adalah urusan Allah, bukan semata hasil kemampuan suami. Allah berfirman: “Sesungguhnya Allah-lah yang Maha Pemberi rezeki, Yang Mempunyai kekuatan lagi Maha Kokoh” (QS. Adz-Dzariyat: 58). Ketika istri terus-menerus menyalahkan suami atas sempitnya rezeki, sementara enggan melihat kekurangan diri sendiri, maka ia telah keliru dalam memandang tauhid dan sebab-akibat kehidupan.
Kebiasaan mengungkit kesalahan suami tanpa mau melakukan muhasabah diri juga bertentangan dengan ajaran Al-Qur’an. Allah berfirman: “Mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan?” (QS. Ash-Shaff: 2). Islam mengajarkan keadilan dalam menilai—termasuk adil terhadap diri sendiri. Rumah tangga yang sehat dibangun dengan introspeksi, bukan dengan tudingan sepihak.
Adapun sikap yang diajarkan Islam kepada suami dalam menghadapi kondisi ini adalah bersabar dengan ilmu dan bertindak dengan hikmah. Allah memerintahkan: “Dan nasihatilah mereka” (QS. An-Nisa: 34) dengan cara yang ma’ruf, bertahap, dan tidak melukai. Suami dianjurkan menasihati dengan lembut, memberi teladan nyata dalam akhlak dan tanggung jawab, serta memperbanyak doa agar Allah melembutkan hati istri, karena hidayah bukan di tangan manusia.
Namun Islam juga tidak mengajarkan suami untuk terus dizalimi secara batin. Jika nasihat, kesabaran, dan perbaikan diri telah dilakukan, suami dibolehkan mencari jalan islah melalui pihak ketiga yang adil (keluarga atau tokoh agama), sebagaimana perintah Allah dalam QS. An-Nisa: 35. Tujuan Islam bukan mempertahankan rumah tangga dengan penderitaan, tetapi membangun keluarga yang sakinah, berkeadilan, dan penuh keberkahan.