
Ilustrasi foto merenungi amal perbuatan
Terasmuslim.com - Islam mengajarkan bahwa hakikat manusia tidak tampak dalam keadaan lapang, melainkan muncul jelas ketika diuji. Allah ﷻ menegaskan bahwa manusia pasti diuji dengan rasa takut, lapar, kekurangan harta, dan musibah, untuk membedakan siapa yang benar imannya dan siapa yang hanya mengaku (QS. Al-Baqarah: 155; QS. Al-‘Ankabut: 2–3). Ujian hidup adalah cermin kejujuran hati, tempat nilai iman dan akhlak terungkap tanpa topeng.
Dalam rumah tangga, hakikat seorang istri terlihat ketika suaminya berada dalam kondisi sulit secara ekonomi. Islam memerintahkan istri untuk mendampingi suami dengan kesabaran dan ketaatan dalam perkara ma’ruf (QS. An-Nisa’: 34). Rasulullah ﷺ juga menekankan pentingnya sikap qana’ah dan syukur dalam kehidupan berumah tangga. Ketika harta berkurang, di situlah terlihat apakah hubungan dibangun di atas iman atau semata kenyamanan dunia.
Sebaliknya, hakikat seorang suami tampak ketika istrinya sakit dan berada dalam keadaan lemah. Rasulullah ﷺ adalah teladan dalam merawat keluarga dengan kasih sayang dan kesabaran. Allah ﷻ memerintahkan para suami untuk memperlakukan istri dengan cara yang baik (QS. An-Nisa’: 19). Ujian ini memperlihatkan apakah seorang laki-laki memandang pernikahan sebagai amanah dan ibadah, atau sekadar pemenuhan kebutuhan pribadi.
Hakikat manusia juga terlihat dalam urusan warisan, persahabatan, dan musibah. Perselisihan harta sering membuka sifat tamak dan dengki (QS. An-Nisa’: 7–11), sementara kesulitan hidup menyingkap siapa teman sejati yang setia menemani (HR. Ahmad: sebaik-baik manusia yang paling bermanfaat). Adapun orang beriman, hakikatnya tampak saat diuji musibah apakah ia bersabar dan kembali kepada Allah, sebagaimana sifat orang beriman yang dipuji dalam Al-Qur’an (QS. Al-Baqarah: 156).