
Ilustrasi foto gibah
Terasmuslim.com - Islam mengajarkan agar seorang muslim lebih dahulu sibuk memperbaiki dirinya sebelum menilai dan mengurusi aib orang lain. Seseorang yang gemar membicarakan kekurangan manusia, namun lalai terhadap aib dirinya sendiri, sejatinya sedang terjebak dalam tipu daya setan. Allah Ta‘ala berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain… dan janganlah kalian saling mencela serta memanggil dengan gelar-gelar yang buruk.” (QS. Al-Hujurat: 11). Ayat ini menegaskan larangan mencela dan merendahkan sesama muslim.
Rasulullah ﷺ juga memperingatkan dengan tegas tentang bahaya membuka aib orang lain. Beliau bersabda: “Wahai orang-orang yang beriman dengan lisannya namun iman belum masuk ke dalam hatinya, janganlah kalian menyakiti kaum muslimin dan jangan mencari-cari aib mereka. Barang siapa mencari-cari aib saudaranya, Allah akan membuka aibnya meskipun ia berada di dalam rumahnya.” (HR. Abu Dawud). Hadits ini menunjukkan betapa berat konsekuensi orang yang sibuk mengorek kesalahan manusia.
Al-Qur’an juga melarang keras prasangka dan tajassus (mencari-cari kesalahan). Allah Ta‘ala berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa, dan janganlah kalian mencari-cari kesalahan orang lain.” (QS. Al-Hujurat: 12). Ayat ini mengarahkan seorang mukmin untuk menjaga kehormatan saudaranya dan memelihara kebersihan hatinya sendiri.
Para ulama salaf menasihati bahwa kesibukan mengurusi aib orang lain adalah tanda kebutaan hati terhadap aib diri sendiri. Orang yang selamat adalah mereka yang sibuk bermuhasabah, bertaubat, dan memperbaiki kekurangan pribadinya. Dengan mengenali aib diri, seorang hamba akan semakin rendah hati dan takut kepada Allah, serta terhindar dari tipu daya yang menjauhkan dari keselamatan akhirat.