KEISLAMAN

Kufur Nikmat Marak Terjadi

Yahya Sukamdani| Kamis, 15/01/2026
Banyak manusia terjatuh dalam kufur nikmat bukan karena Allah kurang memberi, melainkan karena hati jarang dilatih untuk menyadari limpahan karunia-Nya. Ilustrasi foto riya pamer harta

Terasmuslim.com - Dalam Islam, kufur nikmat bukan berarti keluar dari iman, melainkan mengingkari atau meremehkan karunia Allah ﷻ. Allah menegaskan bahwa nikmat-Nya tidak terhitung jumlahnya. Dalam QS. Ibrahim ayat 34, Allah berfirman: “Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya.” Ayat ini menunjukkan bahwa limpahan pemberian Allah begitu luas, namun sering kali luput dari kesadaran manusia karena hati lebih fokus pada kekurangan daripada karunia yang telah ada.

Rasulullah ﷺ juga mengingatkan bahwa rasa syukur sangat berkaitan dengan cara pandang hati. Dalam hadits riwayat Muslim, beliau bersabda: “Lihatlah kepada orang yang berada di bawah kalian dan jangan melihat kepada orang yang berada di atas kalian, karena yang demikian itu lebih patut agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah.” Hadits ini menegaskan bahwa kufur nikmat sering lahir dari kebiasaan membandingkan diri dengan yang lebih kaya, bukan dari sedikitnya pemberian Allah.

Al-Qur’an menjelaskan bahwa syukur bukan sekadar ucapan, tetapi sikap hati dan amal perbuatan. Allah ﷻ berfirman dalam QS. Saba ayat 13: “Bekerjalah wahai keluarga Daud sebagai tanda syukur.” Ayat ini menunjukkan bahwa nikmat akan terjaga dan bertambah jika disadari, dirasakan, dan digunakan dalam ketaatan. Sebaliknya, nikmat yang tidak disyukuri dapat berubah menjadi sebab kesempitan hati, meskipun secara lahiriah harta dan fasilitas terus bertambah.

Karena itu, melatih hati untuk mengenali nikmat menjadi kunci keselamatan dari kufur nikmat. Allah ﷻ menjanjikan dalam QS. Ibrahim ayat 7: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu.” Syukur menjadikan hati lapang, jiwa tenang, dan iman bertambah. Bukan banyak atau sedikitnya rezeki yang menentukan kebahagiaan, tetapi seberapa dalam hati mampu menyadari bahwa setiap detik hidup adalah karunia Allah ﷻ.

Baca juga :
TAGS : kufur nikmat makna syukur nikmat Allah

Terkini