KEISLAMAN

Sabar yang Sering Dilupakan, Menahan Diri untuk Tidak Memamerkan Amal Kebaikan

Yahya Sukamdani| Jum'at, 09/01/2026
Banyak yang kuat beramal, tetapi gagal menjaga keikhlasan karena tak sabar menahan diri dari pamer kebaikan. Ilustrasi foto pamer kebaikan di social media

Terasmuslim.com - Dalam Islam, sabar tidak hanya dimaknai sebagai keteguhan menghadapi musibah atau kesabaran dalam menjalankan ketaatan, tetapi juga sabar setelah amal dilakukan. Salah satu bentuk sabar yang kerap dilupakan adalah menahan diri dari menceritakan dan memamerkan amal kebaikan di hadapan manusia. Padahal, tujuan utama ibadah adalah mencari ridha Allah ﷻ, bukan pujian atau pengakuan. Allah berfirman, “Padahal mereka tidak diperintah kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya” (QS. Al-Bayyinah: 5).

Rasulullah ﷺ sangat memperingatkan bahaya riya’, yaitu beramal untuk dilihat dan dipuji manusia. Dalam hadis riwayat Muslim, Nabi ﷺ bersabda bahwa amalan yang pertama kali diadili pada hari kiamat adalah orang yang beramal agar disebut dermawan, pemberani, atau alim, namun niatnya bukan karena Allah. Ini menunjukkan bahwa amal yang secara lahir tampak baik bisa gugur pahalanya jika disertai keinginan untuk dipamerkan. Karena itu, sabar untuk menyembunyikan amal merupakan benteng penting dari penyakit hati.

Al-Qur’an juga mengajarkan adab menyembunyikan kebaikan, terutama dalam sedekah. Allah ﷻ berfirman, “Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu baik; dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu” (QS. Al-Baqarah: 271). Ayat ini menegaskan bahwa menyembunyikan amal, ketika tidak ada maslahat untuk menampakkannya, lebih dekat kepada keikhlasan dan menjaga hati dari ujub serta riya’.

Para ulama salaf bahkan berjuang keras menyembunyikan amal mereka sebagaimana seseorang menyembunyikan aibnya. Sebab, sabar menahan diri dari menceritakan kebaikan membutuhkan perjuangan yang tidak ringan, terutama di zaman media sosial. Rasulullah ﷺ bersabda, “Barang siapa memperdengarkan amalnya (agar dipuji), maka Allah akan membuka aibnya” (HR. Bukhari dan Muslim). Oleh karena itu, sabar dalam menjaga keikhlasan setelah beramal adalah kunci diterimanya amal dan tanda kematangan iman seorang hamba.

Baca juga :
TAGS : sabar dalam Islam bahaya riya sabar ikhlas

Terkini