
Ilustrasi mencium anak
Terasmuslim.com - Islam sangat menekankan pentingnya kasih sayang dalam keluarga, termasuk dalam hubungan orang tua dan anak. Mencium anak merupakan salah satu bentuk ekspresi kasih sayang yang dianjurkan dan dicontohkan Rasulullah ﷺ. Al-Qur’an menggambarkan sifat Nabi ﷺ sebagai pribadi yang penuh kelembutan, “Maka disebabkan rahmat dari Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka.” (QS. Ali ‘Imran: 159). Sikap lemah lembut ini tercermin pula dalam cara beliau memperlakukan anak-anak dengan penuh cinta dan perhatian.
Dalam hadits shahih, Rasulullah ﷺ pernah mencium cucunya, Hasan bin Ali radhiyallahu ‘anhuma. Ketika Al-Aqra’ bin Habis heran dan berkata bahwa ia tidak pernah mencium anaknya, Rasulullah ﷺ bersabda, “Barangsiapa tidak menyayangi, maka ia tidak akan disayangi.” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadits ini menunjukkan bahwa mencium anak bukan perbuatan remeh, melainkan bagian dari rahmat dan kasih sayang yang mendatangkan kasih sayang Allah.
Lebih jauh, Rasulullah ﷺ juga bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak mencabut kasih sayang kecuali dari hati orang yang celaka.” (HR. Tirmidzi). Mencium dan memeluk anak membantu menumbuhkan rasa aman, cinta, dan kedekatan emosional antara orang tua dan anak. Dalam Islam, pendidikan anak tidak hanya melalui nasihat dan perintah, tetapi juga melalui sentuhan kasih sayang yang membekas dalam jiwa mereka.
Dengan mencium anak, orang tua meneladani akhlak Nabi ﷺ dan menghidupkan nilai rahmah dalam keluarga. Anak yang tumbuh dengan kasih sayang akan lebih mudah diarahkan kepada kebaikan dan ketaatan kepada Allah. Hal ini sejalan dengan tujuan Islam dalam membangun keluarga sakinah, mawaddah, wa rahmah, sebagaimana nilai yang terkandung dalam firman Allah tentang mawaddah dan rahmah dalam rumah tangga (QS. Ar-Rum: 21), yang semangatnya juga berlaku dalam hubungan orang tua dan anak.