
Ilustrasi ulama sombong
Terasmuslim.com - Abdullah Al-Qoshimi dikenal pada masa mudanya sebagai seorang yang alim, cerdas, dan produktif menulis karya ilmiah dalam membela dakwah tauhid serta membantah pemikiran menyimpang. Beberapa karyanya bahkan dipuji oleh ulama pada zamannya karena ketajaman logika dan kekuatan hujjah. Namun, perjalanan hidupnya menjadi pelajaran besar bahwa kecerdasan, ilmu, dan reputasi tidak menjamin keselamatan iman hingga akhir hayat. Allah Ta‘ala mengingatkan, “Maka apakah mereka merasa aman dari makar Allah? Tidak ada yang merasa aman dari makar Allah kecuali orang-orang yang merugi” (QS. Al-A‘raf: 99).
Para ulama menjelaskan bahwa salah satu sebab utama penyimpangan Al-Qoshimi adalah ketergelinciran hati akibat kesombongan intelektual dan mendahulukan akal di atas wahyu. Ketika akal dijadikan hakim atas Al-Qur’an dan Sunnah, bukan tunduk kepadanya, maka pintu kesesatan terbuka lebar. Allah berfirman, “Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya?” (QS. Al-Jatsiyah: 23). Ilmu yang tidak disertai ketundukan dan keikhlasan justru dapat menjadi sebab kebinasaan.
Selain itu, lemahnya tazkiyatun nafs (pensucian jiwa) dan kurangnya amal shalih menjadi faktor yang sangat berbahaya. Rasulullah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya amal itu tergantung penutupnya” (HR. Bukhari). Hadis ini menunjukkan bahwa yang menjadi ukuran keselamatan seseorang adalah bagaimana akhir hidupnya (husnul atau su’ul khatimah), bukan bagaimana awal atau tengah perjalanan ilmunya. Ilmu yang tidak diamalkan dan tidak diiringi rasa takut kepada Allah dapat dicabut keberkahannya.
Kisah Abdullah Al-Qoshimi menjadi peringatan keras bagi kaum muslimin, khususnya para penuntut ilmu dan da‘i, agar senantiasa memohon keteguhan iman. Rasulullah ﷺ sering berdoa, “Wahai Dzat Yang Membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu” (HR. Tirmidzi). Hidayah adalah milik Allah semata, dan kewajiban seorang hamba adalah terus menjaga keikhlasan, tawadhu’, serta menjadikan Al-Qur’an dan Sunnah sebagai rujukan utama hingga akhir hayat.
TAGS : bahaya kesombongan ilmu kisah ulama menyimpang