
Ilustrasi nikmat hidayah
Terasmuslim.com - Dalam Islam, seorang mukmin diajarkan untuk meyakini bahwa seluruh nikmat hakikatnya berasal dari Allah ﷻ, meskipun disampaikan melalui perantara manusia. Allah berfirman: “Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya)” (QS. An-Nahl: 53). Ayat ini menegaskan bahwa manusia hanyalah sebab, sedangkan pemberi hakiki dari setiap rezeki, pertolongan, dan kebaikan adalah Allah semata. Keyakinan ini menjaga akidah agar tidak bergantung kepada makhluk.
Rasulullah ﷺ juga menanamkan pemahaman tauhid dalam menyikapi kebaikan yang datang dari sesama manusia. Dalam hadits beliau bersabda: “Ketahuilah, seandainya seluruh umat berkumpul untuk memberi manfaat kepadamu, mereka tidak akan dapat memberimu manfaat kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan bagimu” (HR. Tirmidzi). Hadits ini menegaskan bahwa setiap bantuan, hadiah, atau kemudahan yang datang melalui siapa pun telah ditentukan oleh Allah dan terjadi atas izin-Nya.
Meskipun demikian, Islam tetap memerintahkan untuk berterima kasih kepada manusia sebagai bentuk adab dan akhlak. Rasulullah ﷺ bersabda: “Barang siapa tidak berterima kasih kepada manusia, maka ia tidak bersyukur kepada Allah” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi). Artinya, mengakui nikmat dari Allah tidak menafikan kewajiban menghargai perantara nikmat tersebut, selama hati tetap meyakini bahwa sumber utamanya adalah Allah ﷻ.
Dengan pemahaman ini, seorang muslim akan memiliki hati yang lapang dan tidak mudah kecewa kepada manusia. Ketika mendapat kebaikan, ia bersyukur kepada Allah; ketika tidak mendapatkannya, ia tetap ridha karena yakin Allah Maha Mengetahui apa yang terbaik. Allah ﷻ berfirman: “Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu” (QS. Ibrahim: 7). Inilah sikap iman yang benar: melihat setiap nikmat, dari siapa pun datangnya, sebagai karunia Allah yang menguatkan tauhid dan menumbuhkan rasa syukur.
TAGS : nikmat dari Allah rezeki dari Allah menurut Islam