
Ilustrasi khawatir rezeki
Terasmuslim.com - Konsep “apa yang engkau simpan belum tentu menjadi rezekimu” sejalan dengan ajaran Al-Qur’an bahwa rezeki sepenuhnya berada dalam kendali Allah. Allah berfirman: “Dan tidak ada suatu makhluk melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya.” (QS. Hud: 6). Ayat ini menegaskan bahwa rezeki bukanlah hasil dari sekadar menimbun atau mengumpulkan harta, tetapi pemberian langsung dari Allah sesuai kehendak-Nya. Seorang hamba hanya diperintahkan untuk berikhtiar, bukan memastikan hasilnya, karena hasil itu bagian dari ketetapan Allah.
Nabi Muhammad ﷺ menjelaskan bahwa apa yang kita makan, pakai, dan sedekahkan itulah yang benar-benar menjadi milik kita. Dalam hadis sahih disebutkan: “Harta anak Adam tidak akan menjadi miliknya kecuali tiga: apa yang ia makan lalu habis, apa yang ia pakai lalu rusak, dan apa yang ia sedekahkan lalu tersimpan (di sisi Allah).” (HR. Muslim). Artinya, harta yang hanya disimpan belum tentu menjadi rezeki; bisa saja habis, hilang, diwariskan, atau bahkan tidak sempat dinikmati sama sekali.
Islam tidak melarang menabung, tetapi melarang keterikatan hati pada harta. Ketika seseorang menyangka bahwa simpanan adalah jaminan rezekinya, di situlah dia terjebak dalam prasangka terhadap Allah. Rasulullah ﷺ bersabda: “Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, niscaya kalian akan diberi rezeki sebagaimana burung diberi rezeki: pergi pagi dalam keadaan lapar dan pulang sore dalam keadaan kenyang.” (HR. Tirmidzi). Hadis ini menjadi bukti bahwa yang menentukan rezeki bukanlah simpanan, tetapi tawakal setelah usaha.
Karena itu, Islam mengajarkan keseimbangan: berusaha, menabung dengan niat baik, tetapi tetap meyakini bahwa rezeki sejati datang dari Allah dan akan mendatangi kita pada waktunya. Tidak jarang, justru harta yang disedekahkan itulah yang membuka pintu rezeki lain. Allah menjanjikan: “Apa saja yang kamu infakkan, Allah akan menggantinya.” (QS. Saba’: 39). Maka harta yang kita tahan belum tentu menjadi rezeki, namun harta yang kita lepaskan karena Allah justru menjadi milik kita selamanya baik di dunia maupun akhirat.