KEISLAMAN

Fikih Buang Hajat, Adab, Hukum, dan Tuntunan Berdasarkan Dalil Syariat

Yahya Sukamdani| Sabtu, 22/11/2025
Buang hajat dalam Islam tidak hanya sekadar aktivitas biologis, tetapi juga diatur oleh adab dan hukum syariat. Ilustrasi - Toilet di kamar mandi (FOTO: PINHOME)

Terasmuslim.com - Dalam Islam, aktivitas buang hajat termasuk perkara penting karena berkaitan dengan kesucian dan sahnya ibadah. Al-Qur’an menekankan pentingnya bersuci sebagai syarat ibadah, sebagaimana firman Allah, “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri” (QS. Al-Baqarah: 222). Ayat ini menjadi dasar kewajiban menjaga kebersihan dan menjauhi najis, termasuk dalam urusan buang air.

Rasulullah saw. memberikan tuntunan jelas mengenai adab buang hajat. Di antaranya adalah larangan buang air di tempat umum atau tempat yang dapat mengganggu masyarakat. Nabi bersabda, “Takutlah kalian terhadap dua perkara yang mendatangkan laknat.” Para sahabat bertanya, ‘Apa itu, wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘(Yaitu) orang yang buang hajat di jalan orang atau di tempat berteduh mereka’ (HR. Muslim). Hadis ini menunjukkan bahwa Islam sangat menjaga etika dan lingkungan sekitar.

Adab lain yang diajarkan adalah masuk ke tempat buang hajat dengan kaki kiri sambil membaca doa perlindungan, sebagaimana riwayat dari Anas bin Malik, “Nabi apabila memasuki WC beliau mengucapkan: ‘Allahumma inni a’ūdzu bika minal khubutsi wal khabā’its’” (HR. Bukhari dan Muslim). Ini menjadi pedoman agar seorang Muslim senantiasa memulai dengan adab yang diajarkan Rasulullah.

Dalam fikih juga dijelaskan larangan menghadap atau membelakangi kiblat saat buang hajat di tempat terbuka, berdasarkan sabda Rasulullah, “Jika kalian buang hajat, maka janganlah menghadap kiblat atau membelakanginya” (HR. Bukhari dan Muslim). Namun ulama memberikan kelonggaran apabila berada di dalam bangunan atau kamar mandi yang tertutup, sebagai bentuk kemudahan syariat.

Setelah buang hajat, Islam mewajibkan istinja’ atau membersihkan najis menggunakan air atau batu. Hal ini berdasarkan hadits dari Salman al-Farisi ketika ia ditanya tentang adab buang hajat, ia menjawab, “Rasulullah melarang kami beristinja’ dengan tangan kanan dan memerintahkan kami beristinja’ dengan tiga batu” (HR. Muslim). Kebersihan menjadi prinsip pokok agar seorang Muslim siap kembali beribadah dalam keadaan suci.

TAGS : fikih buang hajat adab buang air

Terkini

Keislaman

Rabu, 01/04/2026
Rabu, 01/04/2026
Rabu, 01/04/2026
Rabu, 01/04/2026