
Ilustrasi safar dengan transportasi
Terasmuslim.com - Safar atau bepergian dalam Islam memiliki adab dan aturan tersendiri agar perjalanan tidak hanya aman, tetapi juga bernilai ibadah. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Mulk ayat 15: “Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya, dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.” Ayat ini menunjukkan bahwa melakukan perjalanan di muka bumi merupakan bagian dari nikmat dan perintah Allah untuk mencari rezeki, menuntut ilmu, maupun beribadah. Namun, setiap safar harus dilakukan dengan niat yang baik dan tetap menjaga batasan syariat.
Rasulullah SAW memberikan banyak tuntunan tentang adab dan hukum safar. Dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim, beliau bersabda, “Jika tiga orang keluar untuk bepergian, maka hendaklah mereka mengangkat salah seorang di antara mereka sebagai pemimpin.” Hadits ini menegaskan pentingnya kepemimpinan dan kebersamaan dalam perjalanan, agar keputusan diambil dengan bijak dan tidak menimbulkan perpecahan. Selain itu, dianjurkan memulai perjalanan pada pagi hari, karena Nabi SAW mendoakan keberkahan pada waktu pagi.
Selama safar, Islam memberikan berbagai keringanan, seperti dibolehkannya meng-qashar dan menjama’ shalat, berbuka puasa bagi yang kesulitan, serta mengucap doa ketika berangkat dan kembali. Dalam hadits riwayat Muslim, Rasulullah SAW membaca doa sebelum berangkat: “Allahumma inni a’udzu bika min wa’tsai as-safar, wa kaabatil manzhari, wa su’il munqalabi fil mali wal ahli.” (Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kesulitan perjalanan, pandangan yang menyedihkan, dan keadaan buruk pada harta serta keluarga). Ini menunjukkan bahwa setiap perjalanan seharusnya dimulai dengan memohon perlindungan Allah.
TAGS : panduan safar menurut Islam adab bepergian Rasulullah