
Ilustrasi foto tergesa-gesa
Terasmuslim.com - Dalam Islam, ketenangan hati merupakan tanda keimanan dan bentuk pertolongan dari Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Dialah yang menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin agar keimanan mereka bertambah di atas keimanan mereka.” (QS. Al-Fath: 4). Ayat ini menjelaskan bahwa rasa tenang bukan sekadar kondisi jiwa, tetapi karunia ilahi yang diberikan kepada hamba yang berserah diri dan yakin kepada takdir-Nya. Dengan ketenangan, seorang muslim mampu berpikir jernih, sabar, dan bertindak sesuai tuntunan syariat.
Sebaliknya, tergesa-gesa adalah sifat yang dikaitkan dengan setan. Rasulullah ﷺ bersabda, “Ketenangan itu dari Allah, sedangkan tergesa-gesa itu dari setan.” (HR. Tirmidzi). Hadits ini menunjukkan bahwa setiap keputusan atau tindakan yang dilakukan tanpa pertimbangan matang berpotensi membawa keburukan. Setan membisikkan sifat tergesa-gesa agar manusia salah langkah, terburu emosi, dan menjauh dari kebijaksanaan yang diajarkan agama.
Sifat tenang tidak berarti pasif, melainkan bersikap hati-hati dan penuh perhitungan dalam setiap urusan. Orang yang tenang akan selalu menimbang segala sesuatu dengan ilmu dan doa, sementara yang tergesa-gesa sering bertindak karena nafsu atau kemarahan. Dalam QS. Al-Isra: 11, Allah mengingatkan, “Dan manusia berdoa untuk kejahatan sebagaimana ia berdoa untuk kebaikan. Dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa.” Ayat ini menggambarkan bahwa tergesa-gesa dapat menjerumuskan seseorang dalam penyesalan.
Oleh karena itu, seorang muslim harus berlatih untuk menenangkan hati melalui dzikir, doa, dan tawakal kepada Allah. Dengan ketenangan, setiap langkah akan diberkahi dan keputusan menjadi lebih bijak. Sifat tergesa-gesa hanya akan menjauhkan dari hikmah dan ketenangan batin. Maka, jadikanlah ketenangan sebagai ciri keimanan dan benteng dari tipu daya setan.