
Ilustrasi - ini cara mendapatkan syafaat Nabi Muhammad SAW di hari kiamat (Foto: Pexels/Necati Ömer Karpuzoğlu)
Jakarta, Terasmuslim.com - Bagi setiap muslim, mendapatkan syafaat Nabi Muhammad SAW di hari kiamat adalah harapan besar yang mampu menenangkan hati.
Syafaat tersebut merupakan bentuk pertolongan dari Rasulullah SAW atas izin Allah SWT, diberikan kepada umatnya yang beriman agar mendapat keringanan dan keselamatan pada hari yang penuh ketakutan itu.
Dalam berbagai hadis shahih, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa syafaatnya akan diberikan kepada umatnya yang beriman, tidak menyekutukan Allah, dan berusaha mengikuti sunnahnya semasa hidup di dunia.
Secara bahasa, syafaat berasal dari kata syaf‘a (شَفَعَ) yang berarti “menyertakan” atau “memohonkan”. Dalam konteks agama, syafaat berarti permohonan ampun atau pertolongan dari seorang hamba yang mulia kepada Allah untuk orang lain, agar mendapatkan rahmat dan keselamatan.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
مَن ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِندَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ
“Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya.” (QS. Al-Baqarah: 255)
Ayat ini menegaskan bahwa syafaat Nabi Muhammad SAW bukan terjadi atas kehendak beliau semata, melainkan dengan izin Allah SWT sebagai bentuk kemuliaan bagi Rasulullah dan rahmat bagi umatnya.
Rasulullah SAW bersabda:
شَفَاعَتِي لِأَهْلِ الْكَبَائِرِ مِنْ أُمَّتِي
“Syafaatku diberikan kepada umatku yang melakukan dosa besar (tetapi tidak menyekutukan Allah).” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi)
Hadis ini menunjukkan bahwa syafaat Nabi SAW ditujukan bagi umat Islam yang masih memiliki iman di hatinya, meskipun pernah berbuat dosa besar, asalkan mereka tidak menyekutukan Allah SWT dan masih memiliki harapan untuk bertaubat.
Membaca Shalawat dengan Istiqamah, Rasulullah SAW bersabda:
أَوْلَى النَّاسِ بِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَكْثَرُهُمْ عَلَيَّ صَلَاةً
“Orang yang paling berhak mendapatkan syafaatku di hari kiamat adalah orang yang paling banyak bershalawat kepadaku.” (HR. At-Tirmidzi)
Membaca shalawat menjadi tanda cinta dan penghormatan kepada Rasulullah SAW. Semakin sering seseorang bershalawat, semakin besar pula peluangnya untuk mendapat syafaat beliau kelak.
Menjalankan sunnah Nabi dalam ibadah dan kehidupan sehari-hari merupakan bentuk cinta sejati kepada beliau. Allah SWT berfirman:
قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ
“Katakanlah: Jika kamu mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintaimu.” (QS. Ali Imran: 31)
Mengikuti sunnah Nabi menjadi bukti cinta yang nyata, yang dapat mengantarkan seseorang pada rahmat Allah dan syafaat Rasulullah SAW.
Meninggal dalam keadaan membaca kalimat tauhid, Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ
“Barang siapa yang ucapan terakhirnya adalah ‘Lā ilāha illallāh’, maka ia akan masuk surga.” (HR. Abu Dawud)
Orang yang wafat dengan kalimat tauhid di lisannya menunjukkan kesempurnaan iman dan berhak atas pertolongan Allah serta syafaat Rasulullah SAW.
Mendapatkan syafaat Nabi Muhammad SAW bukanlah hal yang mustahil, namun membutuhkan iman, amal saleh, dan kecintaan yang tulus kepada beliau.
Dengan memperbanyak shalawat, mengikuti sunnah, serta menjaga tauhid hingga akhir hayat, setiap muslim memiliki harapan besar untuk mendapat pertolongan Rasulullah SAW pada hari di mana tiada pertolongan kecuali dari Allah.
يَوْمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ
“(Yaitu) pada hari ketika harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang bersih.” (QS. Asy-Syu’ara: 88–89)