KEISLAMAN

Empat Golongan Paling Menyesal di Hari Kiamat

Vaza Diva Fadhillah Akbar| Selasa, 21/10/2025
Hari Kiamat adalah hari penentuan, hari di mana setiap manusia akan melihat hasil dari amal perbuatannya di dunia Ilustrasi - ini empat golongan yang merugi di hari penyesalan (Foto: kompas)

Jakarta, Terasmuslim.com - Hari Kiamat adalah hari penentuan, hari di mana setiap manusia akan melihat hasil dari amal perbuatannya di dunia. Tidak ada lagi kesempatan untuk memperbaiki diri atau menambah amal kebaikan.

Al-Qur`an menyebut hari itu sebagai Yawmul Hasrah atau Hari Penyesalan, saat manusia baru menyadari betapa singkatnya hidup di dunia dan betapa besar kesalahan yang telah mereka abaikan.

Allah SWT berfirman dalam Surah Maryam ayat 39:

وَأَنذِرْهُمْ يَوْمَ الْحَسْرَةِ إِذْ قُضِيَ الْأَمْرُ وَهُمْ فِي غَفْلَةٍ وَهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ

Baca juga :

"Dan berilah mereka peringatan tentang hari penyesalan, yaitu ketika segala perkara telah diputuskan, sedang mereka dalam kelalaian dan tidak beriman." (QS. Maryam: 39)

Ayat ini menggambarkan bahwa di hari itu, tidak ada lagi gunanya penyesalan. Namun, dalam berbagai riwayat dan tafsir, para ulama menjelaskan bahwa ada golongan manusia yang akan mengalami penyesalan paling dalam di hari tersebut.

Golongan pertama adalah orang-orang beriman yang menyesal karena tidak memaksimalkan amalnya di dunia. Mereka yang sudah beriman dan berbuat baik, namun merasa kurang bersungguh-sungguh dalam ibadah, akan menyesal karena melihat betapa besar pahala yang mereka lewatkan. Rasulullah SAW bersabda:

لَا يَتَمَنَّيَنَّ أَحَدُكُمُ الْمَوْتَ، فَإِنَّهُ إِذَا مَاتَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ، وَإِنَّهُ لَا يَزِيدُ الْمُؤْمِنَ عُمُرُهُ إِلَّا خَيْرًا

“Janganlah salah seorang dari kalian mengharapkan kematian, karena jika ia mati maka amalnya akan terputus. Sesungguhnya bertambahnya umur seorang mukmin tidaklah menambah baginya kecuali kebaikan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Golongan kedua adalah orang-orang yang tahu kebenaran, tetapi menunda taubat dan terus melakukan dosa. Mereka sadar bahwa apa yang dilakukan adalah salah, namun menunda untuk berubah hingga ajal menjemput.

Penyesalan terbesar datang ketika mereka memohon kesempatan kedua, tapi waktu sudah berakhir. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Mu’minun ayat 99–100:

حَتَّىٰ إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ ۚ كَلَّا ۚ إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ

“Hingga apabila datang kepada salah seorang dari mereka kematian, dia berkata: ‘Ya Tuhanku, kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku dapat berbuat amal saleh terhadap yang telah aku tinggalkan.’ Sekali-kali tidak! Sesungguhnya itu hanyalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di belakang mereka ada barzakh sampai hari mereka dibangkitkan.” (QS. Al-Mu’minun: 99–100)

Golongan ketiga adalah para pemimpin atau orang yang memiliki amanah namun mengkhianatinya. Mereka yang diberi tanggung jawab untuk memimpin, mendidik, atau menegakkan keadilan, tetapi justru menyalahgunakannya untuk kepentingan pribadi, akan menghadapi penyesalan berat di akhirat. Rasulullah SAW bersabda:

مَا مِنْ رَجُلٍ يَلِي أَمْرَ عَشَرَةٍ مِنَ النَّاسِ، إِلَّا أَتَى اللَّهَ مَغْلُولًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُفُكَّهُ الْعَدْلُ أَوْ يُوبِقَهُ الْجَوْرُ

“Tidaklah seseorang memimpin sepuluh orang pun, melainkan dia akan datang kepada Allah dalam keadaan terikat pada hari kiamat, hingga keadilan membebaskannya atau kezaliman membinasakannya.” (HR. Ahmad dan Baihaqi)

Sedangkan golongan keempat adalah mereka yang mengabaikan dakwah dan enggan menolong sesama. Padahal di dunia mereka memiliki kesempatan untuk berbuat baik, menyebarkan ilmu, atau membantu orang lain, namun memilih diam dan acuh. Di hari akhir, mereka akan menyesal karena setiap peluang kebaikan yang diabaikan akan diperlihatkan kembali oleh Allah. Firman-Nya:

يَوْمَ يَنْظُرُ الْمَرْءُ مَا قَدَّمَتْ يَدَاهُ وَيَقُولُ الْكَافِرُ يَا لَيْتَنِي كُنْتُ تُرَابًا

“Pada hari itu manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh tangannya sendiri, dan orang kafir berkata: ‘Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu menjadi tanah saja.’” (QS. An-Naba’: 40)

Penyesalan di hari Kiamat tidak mengenal batas, baik bagi orang kafir, munafik, maupun yang beriman namun lalai. Maka, selagi masih ada waktu, setiap manusia seharusnya bersegera memperbaiki diri, memperbanyak amal saleh, menunaikan amanah dengan jujur, dan menolong sesama. Rasulullah SAW mengingatkan dalam sebuah hadis:

اغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ: شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ، وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ، وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ، وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ

“Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara: mudamu sebelum tuamu, sehatmu sebelum sakitmu, kayamu sebelum miskinmu, waktu luangmu sebelum sibukmu, dan hidupmu sebelum matimu.” (HR. Hakim dan Baihaqi)

Hari penyesalan adalah hari yang pasti datang. Namun, kita masih memiliki waktu untuk tidak termasuk ke dalam golongan yang menyesal.

Selagi napas masih berhembus, amal masih bisa dikerjakan, dan taubat masih diterima, maka gunakanlah setiap detik hidup untuk memperbaiki diri, menebar kebaikan, dan mempersiapkan diri menyambut hari di mana segala amal akan diperhitungkan.

TAGS : Info Keislaman Hari Kiamat Hari Penyesalan Empat Golongan

Terkini