
Ilustrasi - ini penjelasan dalam Islam untuk orang yang tidak beriman sampai hari kiamat (Foto: Ist)
Jakarta, Terasmuslim.com - Hari Kiamat adalah peristiwa besar yang pasti akan datang, meski tidak ada seorang pun mengetahui kapan waktunya. Dalam ajaran Islam, Kiamat menjadi titik akhir kehidupan dunia sekaligus awal dari kehidupan abadi di akhirat. Di hari itu, seluruh amal perbuatan manusia akan dihisab, dan setiap jiwa akan menerima balasan yang adil dari Allah SWT.
Namun, Al-Qur`an dengan tegas menjelaskan bahwa nasib orang-orang yang tidak beriman, yakni mereka yang menolak kebenaran dan berpaling dari petunjuk Allah akan berujung pada kesengsaraan yang kekal.
1. Dihimpun dalam Keadaan Penuh Penyesalan
Allah SWT menggambarkan bagaimana orang-orang kafir akan dibangkitkan dalam keadaan hina dan menyesali hidupnya di dunia.
وَلَوْ تَرَىٰ إِذِ ٱلْمُجْرِمُونَ نَاكِسُوا۟ رُءُوسِهِمْ عِندَ رَبِّهِمْ رَبَّنَآ أَبْصَرْنَا وَسَمِعْنَا فَٱرْجِعْنَا نَعْمَلْ صَـٰلِحًا إِنَّا مُوقِنُونَ
Walaw tara idzil mujrimuna nakisu ru’usihim ‘inda rabbihim, rabbana absarna wasami‘na farji‘na na‘mal shalihan inna muqinun.
Artinya: “Dan sekiranya kamu melihat ketika orang-orang berdosa menundukkan kepalanya di hadapan Tuhannya seraya berkata: ‘Ya Tuhan kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami ke dunia, kami akan berbuat baik. Sesungguhnya kami sekarang benar-benar yakin.’”
(QS. As-Sajdah: 12)
Ayat ini menggambarkan penyesalan mendalam orang-orang kafir, namun penyesalan itu datang terlambat, sebab tidak ada kesempatan kedua setelah Hari Kiamat tiba.
2. Wajah Mereka Menghitam dan Dipenuhi Ketakutan
Al-Qur`an juga menjelaskan bagaimana keadaan wajah orang-orang yang tidak beriman ketika hari perhitungan tiba.
وَيَوْمَ ٱلْقِيَـٰمَةِ تَرَى ٱلَّذِينَ كَذَبُوا۟ عَلَى ٱللَّهِ وُجُوهُهُم مُّسْوَدَّةٌ
Wa yaumal qiyamati tara alladzina kadzabu ‘alallahi wujuhuhum muswaddah.
Artinya: “Dan pada hari Kiamat engkau akan melihat orang-orang yang berdusta terhadap Allah, wajah mereka menjadi hitam.” (QS. Az-Zumar: 60)
Wajah hitam melambangkan kehinaan dan ketakutan, tanda bahwa mereka tidak mendapatkan cahaya keimanan di dunia yang mampu menerangi perjalanan mereka di akhirat.
3. Diseret ke Neraka dengan Rantai dan Belenggu
Salah satu gambaran paling menakutkan tentang nasib orang yang tidak beriman adalah bagaimana mereka akan diseret dan dibelenggu menuju neraka Jahannam.
إِذِ ٱلْأَغْلَـٰلُ فِىٓ أَعْنَـٰقِهِمْ وَٱلسَّلَـٰسِلُ يُسْحَبُونَ فِى ٱلْحَمِيمِ ثُمَّ فِى ٱلنَّارِ يُسْجَرُونَ
Idzil aghlalu fi a‘naqihim was-salasilu yushabun fil hamimi thumma fin-nari yusjarun.
Artinya: “Ketika belenggu dan rantai dipasang di leher mereka, seraya mereka diseret ke dalam air yang mendidih, kemudian dibakar dalam api neraka.” (QS. Ghafir: 71-72)
Ayat ini menunjukkan bagaimana azab bagi orang yang menolak iman bukan hanya menyakitkan, tetapi juga memalukan, karena mereka akan dipermalukan di hadapan seluruh makhluk.
4. Tidak Mendapat Syafaat dan Kasih Sayang Allah
Bagi orang-orang beriman, rahmat dan ampunan Allah menjadi harapan terbesar. Namun bagi mereka yang tidak beriman, tidak ada syafaat dan pertolongan sedikit pun.
فَمَا تَنفَعُهُمْ شَفَـٰعَةُ ٱلشَّـٰفِعِينَ
Fama tanfa‘uhum syafa‘atus syafi‘in.
Artinya: “Maka tidak berguna lagi bagi mereka syafaat dari orang-orang yang memberikan syafaat.” (QS. Al-Muddatsir: 48)
Tidak ada malaikat, nabi, ataupun keluarga yang bisa menolong mereka di hadapan keadilan Allah SWT.
5. Kekal dalam Siksaan Neraka
Nasib terakhir bagi orang yang tidak beriman adalah kekal di dalam neraka, tempat siksaan yang tiada akhir.
إِنَّ ٱللَّهَ لَعَنَ ٱلْكَـٰفِرِينَ وَأَعَدَّ لَهُمْ سَعِيرًا خَـٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدًا
Latin: Innal-laha la‘anal kafirina wa a‘adda lahum sa‘ira khalidina fiha abada.
Artinya: “Sesungguhnya Allah melaknat orang-orang kafir dan menyediakan bagi mereka api yang menyala-nyala (neraka), mereka kekal di dalamnya selama-lamanya.” (QS. Al-Ahzab: 64–65)
Hari Kiamat menjadi pengingat bagi setiap manusia bahwa kehidupan dunia hanyalah sementara. Orang yang tidak beriman akan menanggung akibat dari penolakannya terhadap kebenaran, sementara mereka yang beriman akan mendapatkan rahmat dan kebahagiaan abadi di sisi Allah SWT.
Karenanya, selama masih diberi waktu dan kesempatan hidup, hendaklah setiap manusia bersegera memperbaiki diri, memperkuat iman, dan memperbanyak amal saleh. Sebab sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. Al-Mu’minun ayat 115:
أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَـٰكُمْ عَبَثًۭا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ
Artinya: “Apakah kamu mengira bahwa Kami menciptakan kamu dengan sia-sia dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?”