
Ilustrasi urutan tatacara haji
Terasmuslim.com - Ibadah haji memiliki urutan yang telah ditetapkan syariat, dimulai dari ihram dengan niat haji dari miqat. Ihram disertai dengan larangan tertentu, sebagaimana firman Allah: “(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi. Barang siapa yang menetapkan niat dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats (kata-kata kotor), berbuat fasik, dan berbantah-bantahan dalam masa mengerjakan haji...” (QS. Al-Baqarah: 197). Dari ihram, jamaah melanjutkan ke Makkah untuk thawaf qudum, lalu menuju Mina pada tanggal 8 Zulhijjah.
Pada tanggal 9 Zulhijjah, jamaah berkumpul di Padang Arafah untuk wukuf, yang merupakan puncak haji. Rasulullah ﷺ bersabda: “Haji itu adalah wukuf di Arafah” (HR. Tirmidzi). Setelah itu, jamaah bermalam di Muzdalifah, lalu melanjutkan ke Mina untuk melontar jumrah Aqabah. Di hari-hari tasyrik, jamaah juga melaksanakan melontar jumrah tiga pilar, menyembelih hewan dam bagi yang wajib, serta mencukur rambut sebagai tanda tahallul.
Rangkaian haji dilengkapi dengan thawaf ifadah, sa’i antara Shafa dan Marwah, serta bermalam (mabit) di Mina. Terakhir, sebelum meninggalkan Makkah, jamaah menunaikan thawaf wada’ sebagai penutup. Dengan melaksanakan urutan ini sesuai sunnah, ibadah haji menjadi sempurna sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah ﷺ dalam haji wada’-nya. Setiap tahapan memiliki makna spiritual yang mendalam, dari pengorbanan, kesabaran, hingga penguatan tauhid.