
Ilustrasi foto manusia yang sibuk dengan dunia
Terasmuslim.com - Dalam Islam, kecintaan yang berlebihan terhadap dunia dan rasa takut mati secara berlebihan disebut sebagai penyakit hati yang berbahaya. Rasulullah ﷺ bersabda, *“Hampir-hampir bangsa-bangsa akan memperebutkan kalian sebagaimana orang-orang yang memperebutkan makanan di piring.” Para sahabat bertanya, ‘Apakah karena jumlah kami sedikit saat itu, wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘Tidak, bahkan jumlah kalian saat itu banyak, tetapi kalian seperti buih di lautan. Allah akan mencabut rasa takut dari dada musuh-musuh kalian, dan Allah akan melemparkan wahn ke dalam hati kalian.’ Mereka bertanya, ‘Apakah wahn itu, wahai Rasulullah?’ Beliau bersabda, ‘Cinta dunia dan takut mati.’” (HR. Abu Dawud).
Al-Qur’an mengingatkan bahwa kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang menipu jika tidak diiringi dengan amal saleh. Allah berfirman: “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan saling bermegah-megahan di antara kamu serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan…” (QS. Al-Hadid: 20). Ayat ini menegaskan bahwa cinta dunia tanpa batas hanya akan menjerumuskan manusia pada kelalaian, dan rasa takut mati lahir dari keterikatan pada dunia yang fana.
Seorang Muslim diajarkan untuk menyeimbangkan kehidupan dunia dan akhirat. Allah berfirman: “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi...” (QS. Al-Qashash: 77). Artinya, Islam tidak melarang mencari dunia, tetapi menempatkan dunia hanya sebagai sarana, bukan tujuan utama. Jika cinta dunia dikendalikan dengan iman dan amal, maka rasa takut mati akan tergantikan oleh kerinduan bertemu Allah dengan membawa bekal amal saleh.