
Ilustrasi foto merenungi amal perbuatan
Terasmuslim.com - Dalam hidup, manusia tidak pernah terlepas dari harapan dan rencana. Namun, ada kalanya apa yang diinginkan tidak terwujud, bahkan runtuh seketika. Dalam Islam, kondisi ini tidak dianggap sebagai akhir segalanya, melainkan ujian dan bagian dari takdir Allah yang harus disikapi dengan sabar dan tawakal. Al-Qur’an mengingatkan bahwa manusia boleh merencanakan sesuatu, tetapi pada akhirnya Allah-lah yang menentukan hasilnya. Firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 216 menegaskan bahwa bisa jadi sesuatu yang dibenci justru baik bagi kita, dan sesuatu yang dicintai bisa jadi buruk bagi kita, sebab Allah lebih mengetahui sedangkan manusia tidak mengetahui.
Ketika kehilangan harapan dan rencana, Islam menganjurkan untuk kembali memperkuat iman dan memperbanyak doa. Rasulullah ﷺ mengajarkan agar seorang muslim tidak larut dalam keputusasaan, karena putus asa adalah sikap yang dilarang dalam ajaran Islam. Dalam surat Yusuf ayat 87, Allah melarang hamba-Nya berputus asa dari rahmat-Nya, sebab rahmat dan pertolongan Allah selalu lebih luas daripada masalah yang menimpa manusia.
Langkah pertama yang diajarkan Islam adalah sabar. Sabar bukan berarti diam tanpa usaha, melainkan menerima keadaan dengan hati yang lapang dan tetap berikhtiar mencari solusi baru. Selanjutnya, seorang muslim dianjurkan untuk bertawakal, yakni menyerahkan hasil kepada Allah setelah berusaha maksimal. Dengan sikap ini, hati akan lebih tenang, sebab yang terpenting bukan hasil sesuai keinginan, melainkan keridhaan Allah terhadap hamba-Nya.
Selain itu, memperbanyak istighfar dan shalat sunnah seperti tahajud dapat menjadi jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Dari kedekatan spiritual inilah, seseorang akan diberi ketenangan, kemantapan hati, serta jalan keluar yang mungkin tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Dukungan keluarga dan lingkungan yang salih juga sangat membantu agar tidak terperangkap dalam kesedihan berkepanjangan.
Dengan demikian, kehilangan harapan dan rencana menurut Islam adalah momentum untuk kembali menyadari bahwa hidup ini milik Allah, dan sebaik-baik tempat berharap hanyalah kepada-Nya. Di balik runtuhnya harapan manusia, selalu ada rencana Allah yang lebih indah.