
Ilustrasi foto syeikh sufi dengan muridnya
Terasmuslim.com - Dalam ajaran Islam, sikap ghuluw atau berlebihan dalam beragama merupakan sesuatu yang dilarang. Salah satu bentuk ghuluw yang kerap mendapat sorotan adalah sikap sebagian kaum sufi yang terlalu mengagungkan perkataan syeikh mereka. Tidak sedikit murid atau pengikut yang menerima setiap ucapan gurunya tanpa mempertimbangkan apakah sesuai dengan Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah ﷺ. Bahkan, ada yang menempatkan perkataan syeikh seolah lebih tinggi daripada dalil syar’i.
Sikap ini berpotensi menjerumuskan pada kesesatan, sebab dalam Islam tidak ada satu pun manusia yang maksum kecuali para nabi dan rasul. Para ulama sekalipun tetap bisa salah dan keliru dalam pandangan atau fatwanya. Oleh karena itu, meyakini bahwa setiap ucapan syeikh pasti benar tanpa verifikasi adalah bentuk ghuluw yang bertentangan dengan prinsip Islam.
Al-Qur’an mengajarkan agar setiap Muslim kembali kepada Allah dan Rasul-Nya ketika terjadi perselisihan atau perbedaan pendapat. Artinya, ucapan siapa pun baik ulama, guru, atau syeikh harus diukur dengan timbangan wahyu, bukan sebaliknya. Ketika perkataan seorang syeikh sejalan dengan Al-Qur’an dan sunnah, maka dapat diikuti. Namun jika menyelisihi, maka wajib ditinggalkan.
Fenomena ghuluw ini juga bisa menumbuhkan fanatisme buta yang berbahaya. Murid bisa menolak kebenaran dari sumber lain hanya karena terlalu loyal pada syeikhnya. Dalam sejarah, sikap berlebihan seperti ini bahkan pernah melahirkan praktik-praktik bid’ah dan kultus individu yang menjauhkan umat dari ajaran Islam yang murni.
Islam mendorong umatnya untuk menghormati ulama dan guru, namun tetap dalam batas yang wajar. Menghormati tidak berarti mengultuskan, apalagi menempatkan mereka pada derajat yang seharusnya hanya milik Rasulullah ﷺ. Dengan demikian, seorang Muslim sebaiknya selalu menjaga keseimbangan: menghormati guru dan ulama sebagai pewaris ilmu, tetapi tetap kritis dalam menimbang setiap ucapan dengan merujuk kepada Al-Qur’an dan sunnah.