KEISLAMAN

Mengungkap Sejarah Rebo Wekasan yang Jarang Diketahui

Vaza Diva Fadhillah Akbar| Jum'at, 22/08/2025
Ini sejarah Rebo Wekasan yang menjadi tradisi di Indonesia, khususnya daerah Jawa  Ilustrasi - bulan Safar (Foto: Tebuireng Online)

Jakarta, Terasmuslim.com - Setiap tahun, sebagian masyarakat muslim di Indonesia mengenal tradisi Rebo Wekasan, yakni pelaksanaan doa bersama pada Rabu terakhir bulan Safar.

Tradisi ini diyakini sebagai bentuk ikhtiar menolak bala atau musibah yang konon sering terjadi pada hari tersebut.

Sejarah Rebo Wekasan berakar dari keyakinan masyarakat Jawa dan sebagian umat Islam di Nusantara sejak berabad-abad lalu. Kata wekasan sendiri berasal dari bahasa Jawa yang berarti “terakhir”.

Dengan demikian, Rebo Wekasan berarti Rabu terakhir. Pada hari ini, masyarakat kerap melakukan doa bersama, shalat sunnah, hingga membaca ayat-ayat tertentu untuk memohon perlindungan kepada Allah SWT.

Baca juga :

Tradisi ini berkembang karena adanya riwayat yang menyebutkan bahwa di bulan Safar banyak turun bala atau malapetaka. Meski sebagian ulama berpendapat bahwa hadis mengenai “turunnya bala pada bulan Safar” tidak kuat, namun budaya Rebo Wekasan tetap bertahan sebagai kearifan lokal yang mengandung nilai spiritual dan sosial.

Dalam praktiknya, Rebo Wekasan bukan hanya ritual doa, melainkan juga momen kebersamaan. Di sejumlah daerah, seperti Jawa Tengah, Jawa Timur, hingga Madura, masyarakat menggelar pengajian, sedekah bersama, hingga pembacaan doa tolak bala. Bahkan ada pula tradisi membuat air doa yang dibagikan kepada warga untuk diminum sebagai simbol keselamatan.

Hingga kini, Rebo Wekasan dipandang sebagai wujud penguatan iman sekaligus ikhtiar lahir dan batin menghadapi segala cobaan hidup.

Meski berbeda pendapat dalam menyikapi sejarah dan dalilnya, banyak umat Islam yang menjadikan momen ini sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT, dengan harapan dijauhkan dari berbagai marabahaya.

TAGS : Info Keislaman Rebo Wekasan Jawa Tradisi

Terkini