KEISLAMAN

Benarkah Kiamat Sugra akan Dialami Setiap Manusia? Ini Penjelasan Al-Qur`an

Vaza Diva Fadhillah Akbar| Kamis, 07/08/2025
Dalam ajaran Islam, terdapat dua bentuk kiamat yang mendasar—Kiamat Sugra dan Kiamat Kubra Ilustrasi - Kiamat (Foto: kompas)

Jakarta, Terasmuslim.com - Dalam ajaran Islam, terdapat dua bentuk kiamat yang mendasar, Kiamat Sugra dan Kiamat Kubra.

Meski sering disalahartikan, Kiamat Sugra sejatinya bukan kehancuran dunia secara total, melainkan kematian yang akan dialami oleh setiap jiwa sebagai bagian dari ketetapan Ilahi.

Kata “sugra” berasal dari bahasa Arab yang berarti “kecil”, dan istilah ini merujuk pada kematian sebagai peristiwa personal yang pasti, berbeda dari Kiamat Kubra yang merupakan kehancuran seluruh alam semesta.

Kiamat Sugra dipahami bukan sebagai akhir dari segalanya, tetapi sebagai perpindahan dari kehidupan dunia menuju fase barzakh, yang kemudian akan berlanjut ke hari kebangkitan.

Baca juga :

Dalam perspektif teologis Islam, sebagaimana dijelaskan dalam Encyclopedia of Islam, peristiwa ini adalah jembatan spiritual menuju kehidupan yang abadi di akhirat. Seluruh manusia akan melewatinya tanpa terkecuali, tanpa memandang status, usia, atau kedudukan. Ia adalah pengingat bahwa hidup di dunia bersifat sementara.

Bentuk kematian sebagai manifestasi dari Kiamat Sugra sangat beragam. Ada yang meninggal karena usia yang menua, karena penyakit yang kronis, karena kecelakaan yang mendadak, atau bahkan dalam kondisi yang tragis seperti bencana alam dan peperangan.

Kematian juga bisa datang dalam situasi yang lebih halus dan menyakitkan, seperti komplikasi saat melahirkan. Semua ini menunjukkan bahwa takdir Allah berjalan dengan cara yang sering tak bisa ditebak oleh logika manusia.

Al-Qur`an memberikan banyak penegasan tentang kematian sebagai kepastian. Dalam Surah Ali Imran disebutkan bahwa setiap makhluk bernyawa pasti akan merasakan mati.

Surah Ar-Rahman menegaskan bahwa segala yang ada di muka bumi akan binasa kecuali wajah Tuhan yang Maha Mulia. Surah Al-Hajj menyatakan bahwa kiamat pasti terjadi dan Allah akan membangkitkan semua yang telah wafat.

Sementara Surah Asy-Syura memberi pesan bahwa berbagai musibah yang terjadi, termasuk kematian, bisa jadi merupakan konsekuensi dari perbuatan manusia, namun tetap berada dalam ruang kasih sayang Allah yang Maha Pengampun.

Tanda-tanda menuju kematian juga dikenal dalam tradisi Islam, meski waktunya tetap menjadi rahasia Allah. Seorang hamba bisa merasakan perubahan fisik yang signifikan, mulai dari melemahnya tubuh, kehilangan selera makan, hingga tidur yang tak menentu.

Secara spiritual, hati yang lembut akan lebih condong pada ibadah, merasa damai, atau mendapatkan mimpi yang bermakna. Secara psikologis, seseorang yang dekat dengan ajalnya mungkin mulai merefleksikan hidup, ingin berdamai dengan orang-orang terdekat, dan melepaskan keterikatan pada dunia.

Akan tetapi, tanda-tanda ini bukanlah hukum pasti, karena tidak semua orang mengalaminya dengan cara yang sama.

Islam mengajarkan bahwa mempersiapkan diri menghadapi kematian adalah bentuk ketakwaan yang nyata. Persiapan ini meliputi penyucian jiwa, memperbanyak amal, menyelesaikan urusan dunia seperti hutang atau wasiat, serta memperbaiki hubungan sosial.

Keluarga juga perlu dipersiapkan secara mental dan spiritual agar kuat menghadapi kepergian orang terkasih. Dengan kesiapan yang menyeluruh, seorang Muslim akan menghadapi ajal dengan ketenangan dan harapan rahmat dari Allah.

Menghadapi kematian orang tercinta, Islam mengajarkan kesabaran dan ketundukan terhadap takdir. Doa, amal atas nama almarhum, dan pengambilan hikmah dari musibah adalah bentuk penguatan iman.

Rasa sedih adalah fitrah, namun kesedihan tidak boleh membawa kepada sikap berlebihan yang melupakan harapan kepada Allah. Sebab dalam Islam, kematian bukanlah titik akhir, melainkan awal dari kehidupan yang sejati.

TAGS : Info Keislaman Kiamat Sugra Manusia Al-Qur`an

Terkini