KEISLAMAN

Bukan Caci dan Cemooh, Ini Cara Nabi Menyampaikan Kebenaran

Yahya Sukamdani| Sabtu, 26/07/2025
Sikap ini menjadi simbol tertinggi dari toleransi dan kasih sayang dalam dakwah. Ilustrasi dai sedang berdakwah

Terasmuslim.com - Dakwah Rasulullah Muhammad ﷺ tidak hanya dikenal karena kebenaran isinya, tetapi juga karena kelembutan dan toleransi dalam penyampaiannya. Di tengah masyarakat Arab yang kala itu keras dan penuh konflik suku, Nabi hadir membawa pesan tauhid dengan pendekatan penuh kasih sayang, kesabaran, dan penghormatan terhadap sesama.

Toleransi dalam dakwah menjadi prinsip utama dalam misi kenabian. Allah ﷻ memuji akhlak Nabi dalam berdakwah melalui firman-Nya:

"Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, niscaya mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu..."
(QS. Ali Imran: 159)

Ayat ini menjadi dasar utama bahwa dakwah bukan tentang memaksa, tetapi membimbing. Nabi Muhammad ﷺ tak pernah memaksakan ajaran Islam, bahkan kepada kerabat terdekatnya sekalipun. Ketika pamannya, Abu Thalib, enggan mengucap syahadat hingga akhir hayatnya, Rasulullah tetap menghormati keputusan tersebut meskipun dengan hati yang sedih.

Baca juga :

Dalam berbagai riwayat, Nabi senantiasa menahan diri dari balas dendam atau umpatan saat ditolak. Di Thaif, ketika beliau disambut dengan lemparan batu, malaikat Jibril menawarkan untuk membalikkan gunung menimpa penduduk kota tersebut. Namun, Nabi menolak dan justru berdoa:

“Ya Allah, beri petunjuk kepada kaumku, karena mereka tidak tahu.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Sikap ini menjadi simbol tertinggi dari toleransi dan kasih sayang dalam dakwah. Alih-alih marah, Rasulullah melihat penolakan sebagai tanda ketidaktahuan, bukan permusuhan.

Menurut Ustaz Salim A. Fillah, seorang dai dan penulis buku keislaman, “Rasulullah mengajarkan bahwa keberhasilan dakwah bukan hanya pada banyaknya yang menerima ajaran, tetapi juga pada adab penyampaiannya. Kita bisa kalah dalam argumentasi, tetapi tak boleh kalah dalam akhlak.”

Toleransi dalam dakwah juga tercermin dari dialog Nabi dengan para tokoh non-Muslim. Dalam Piagam Madinah, Rasulullah menetapkan prinsip hidup berdampingan antara umat Islam, Yahudi, dan berbagai kabilah lainnya. Bahkan masjid dibuka sebagai tempat musyawarah bersama tanpa diskriminasi keyakinan.

Dalam dunia modern yang penuh dengan perbedaan pandangan dan keyakinan, metode dakwah Nabi sangat relevan untuk dihidupkan. Pendekatan yang damai, inklusif, dan menghargai akal sehat lebih diterima daripada dakwah yang memaki, mencela, atau memaksakan.

Rasulullah ﷺ telah memberi teladan bahwa toleransi bukan berarti kompromi dalam akidah, tetapi cara menyampaikan yang lembut tanpa menghakimi. Islam datang sebagai rahmat bagi semesta, dan dakwah seharusnya mencerminkan rahmat itu dalam tutur kata, sikap, dan strategi.

TAGS : Dakwah toleransi Islam Rasulullah

Terkini