
Ilustrasi muslim sedang berucap
Terasmuslim.com - Dalam ajaran Islam, syirik merupakan dosa besar yang paling dibenci oleh Allah ﷻ. Syirik berarti menyekutukan Allah dalam bentuk apa pun, baik dalam keyakinan, perbuatan, maupun ucapan. Meski banyak orang memahami syirik dalam konteks menyembah selain Allah, namun tanpa disadari, syirik juga bisa muncul dari lisan manusia melalui ucapan-ucapan yang tampaknya sepele. Padahal, dalam pandangan syariat, kata-kata yang mengandung unsur syirik tetap dianggap sebagai bentuk pelanggaran tauhid.
Di tengah masyarakat, tidak jarang terdengar ucapan-ucapan seperti, “Kalau bukan karena si A, saya pasti celaka,” atau “Tempat ini membawa sial.” Meski dimaksudkan untuk menyatakan rasa syukur atau ekspresi pengalaman, kalimat-kalimat semacam ini dapat mengandung makna syirik jika tidak dibarengi dengan keyakinan bahwa semua terjadi atas izin dan kehendak Allah semata. Hal inilah yang membuat para ulama menekankan pentingnya menjaga lisan agar tidak tergelincir dalam perkataan yang menciderai tauhid.
Islam mengajarkan bahwa semua kebaikan maupun keburukan yang terjadi dalam hidup manusia datang dari Allah ﷻ. Oleh karena itu, menyandarkan kekuatan atau pengaruh mutlak kepada selain Allah dianggap sebagai bentuk syirik kecil (syirik asghar), bahkan bisa menjadi syirik besar (syirik akbar) jika disertai keyakinan batin bahwa selain Allah memiliki kekuasaan yang mutlak. Dalam hadits sahih, Rasulullah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya ada sebagian dari ucapan yang merupakan bentuk sihir.” (HR. Bukhari dan Muslim). Ini menandakan bahwa ucapan yang salah bisa membawa kerusakan akidah.
Contoh lain dari syirik dalam ucapan adalah bersumpah dengan nama selain Allah, seperti mengatakan, “Demi hidupmu,” atau “Demi langit dan bumi.” Dalam Islam, sumpah hanya boleh dilakukan dengan menyebut nama Allah, karena selain-Nya tidak layak disamakan dengan Sang Pencipta. Rasulullah ﷺ bersabda, “Barang siapa bersumpah dengan selain Allah, maka ia telah berbuat syirik.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).
Ucapan yang mengaitkan keberuntungan atau musibah pada hari tertentu, angka, benda, atau tempat juga termasuk syirik. Misalnya, anggapan bahwa hari Jumat Kliwon membawa sial atau menggunakan jimat untuk menolak bala. Ucapan seperti ini, apabila diiringi dengan keyakinan bahwa selain Allah bisa memberi manfaat atau mudarat secara independen, maka jelas bertentangan dengan prinsip tauhid.
Para ulama menasihati umat Islam agar selalu berhati-hati dalam berkata-kata. Setiap ucapan mencerminkan isi hati dan akidah seseorang. Untuk menghindari syirik dalam lisan, seorang Muslim dianjurkan untuk senantiasa menyandarkan semua kejadian kepada kehendak Allah dan menghindari kata-kata yang menggambarkan kekuatan makhluk melebihi kuasa Sang Pencipta.
Menjaga akidah dalam setiap aspek kehidupan, termasuk dalam ucapan sehari-hari, merupakan wujud keimanan yang utuh. Syirik bukan hanya perbuatan menyembah berhala, tapi bisa menjelma dalam kalimat-kalimat ringan yang tak disadari. Karenanya, penting bagi setiap Muslim untuk senantiasa memurnikan tauhid dan menjaga lisannya dari segala bentuk perkataan yang mengarah kepada kesyirikan.
TAGS : Syirik ucapan Islam Rasulullah