
Ilustrasi harta dan usia (Foto: Ist)
Terasmuslim.com - Di tengah dunia yang serba cepat dan penuh ambisi, banyak orang mengejar kekayaan dan panjang usia seolah-olah keduanya adalah tolok ukur keberhasilan hidup. Padahal dalam pandangan Islam, tidak semua harta adalah rezeki yang diberkahi, dan tidak semua umur panjang membawa kebahagiaan sejati. Yang lebih utama bukanlah seberapa banyak dan seberapa lama, tetapi seberapa berkah.
Berkah bukan tentang nominal atau angka. Ia adalah nilai spiritual yang membuat sesuatu yang sedikit terasa cukup, sesuatu yang singkat terasa penuh makna. Banyak orang memiliki harta melimpah, tetapi hidupnya gersang dari rasa tenang. Ada pula yang panjang umur, namun hanya berisi rutinitas dunia tanpa arah akhirat. Di situlah pentingnya memahami hakikat harta dan usia yang berkah, agar hidup tak sekadar berjalan, tapi berarti.
Islam mengajarkan bahwa harta yang berkah adalah harta yang diperoleh dengan cara halal, disalurkan pada jalan kebaikan, dan tidak melalaikan dari ibadah. Sebaliknya, harta yang diperoleh dari jalan batil meski melimpah tidak akan membawa ketenangan. Rasulullah ﷺ bersabda, “Sungguh, tidaklah harta itu banyak yang membuat kaya, tetapi kekayaan sejati adalah kekayaan hati.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Begitu pula soal usia. Panjang usia bukanlah jaminan mulia jika tak digunakan untuk ketaatan. Ulama besar seperti Imam Nawawi, yang wafat di usia 45 tahun, meninggalkan warisan keilmuan yang terus hidup hingga kini. Artinya, keberkahan usia tidak terletak pada jumlah tahun, melainkan pada kualitas amal yang terukir di dalamnya.
Allah ﷻ berfirman dalam surah Al-Mulk ayat 2: “Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.” Ayat ini menegaskan bahwa yang dinilai adalah "ahsan ‘amala" yang paling baik amalnya bukan yang paling panjang usianya atau paling besar hartanya.
Untuk mendapatkan keberkahan, seseorang harus menanamkan niat yang benar, memperbaiki akhlak, dan memperluas manfaat. Harta yang dibagi kepada fakir miskin, anak yatim, dan pembangunan kebaikan akan terus mengalir pahalanya bahkan setelah pemiliknya tiada. Usia yang diisi dengan ilmu, ibadah, dan amal sosial akan menjadikan hidup lebih berarti dan dikenang dalam kebaikan.
Banyak kisah orang sederhana yang hidupnya diberkahi. Mereka mungkin tidak tampil di panggung dunia, tetapi doanya menembus langit. Harta yang cukup untuk makan sehari dan usia yang tidak panjang bisa menjadi ladang pahala yang luas, bila dibarengi keikhlasan dan amal.
Di akhirat nanti, manusia akan ditanya tentang empat hal, dan dua di antaranya adalah hartanya dari mana diperoleh dan untuk apa dibelanjakan, serta usianya untuk apa dihabiskan. Ini menjadi pengingat bahwa keberkahan sejatinya adalah kesadaran bahwa segala yang kita miliki hanyalah titipan yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban.
Harta dan usia yang berkah adalah anugerah langka di dunia yang penuh tipu daya. Mungkin tak selalu membuat kita terkenal, tetapi akan menjadikan hidup lebih tenteram, bermakna, dan diridhai oleh Allah ﷻ.
TAGS : Harta usia Islam