KEISLAMAN

Syirik di Bulan Muharram, Mengapa Harus Diwaspadai

Yahya Sukamdani| Sabtu, 28/06/2025
Ulama menyebutkan bahwa syirik adalah dosa terbesar dalam Islam. Ilustrasi syirik

Terasmuslim.com - Bulan Muharram adalah salah satu dari empat bulan haram yang dimuliakan dalam Islam. Dalam Al-Qur’an surah At-Taubah ayat 36, Allah menegaskan bahwa di bulan-bulan haram, termasuk Muharram, umat Islam dilarang berbuat zalim, termasuk berbuat dosa besar seperti syirik. Namun sayangnya, masih ditemukan praktik-praktik yang mendekati kemusyrikan yang justru dilakukan di bulan yang suci ini, khususnya di kalangan masyarakat yang masih melestarikan kepercayaan adat secara keliru.

Di beberapa daerah, Muharram sering dikaitkan dengan hal-hal mistis, bahkan dianggap sebagai bulan penuh petaka. Sebutan "bulan Suro" dalam tradisi Jawa misalnya, membawa nuansa magis yang seringkali dimanfaatkan untuk ritual yang berbau klenik. Praktik seperti menghindari pernikahan, mandi kembang tengah malam, hingga menyajikan sesajen untuk roh leluhur masih ditemukan dan dianggap lumrah. Padahal, jika mengandung keyakinan bahwa benda atau ritual tersebut bisa mendatangkan manfaat atau menolak bala tanpa izin Allah, maka hal ini termasuk bentuk syirik.

Ulama menyebutkan bahwa syirik adalah dosa terbesar dalam Islam. Dalam Surah An-Nisa ayat 48, ditegaskan bahwa Allah tidak akan mengampuni dosa syirik kecuali jika pelakunya bertaubat dengan sungguh-sungguh. Hal ini menegaskan betapa fatalnya konsekuensi dari perbuatan menyekutukan Allah, apalagi jika dilakukan di bulan yang dimuliakan. Banyak yang tak menyadari bahwa praktik syirik bisa terjadi bukan hanya lewat penyembahan berhala, tapi juga lewat kepercayaan kepada jimat, dukun, atau ritual yang tak sesuai tuntunan syariat.

Sebagian masyarakat melaksanakan ritual khusus di bulan Suro seperti tirakat, tapa bisu, atau larungan. Meski sebagian menganggapnya hanya sebagai budaya, tetap harus diwaspadai ketika niat dan keyakinan di baliknya bertentangan dengan akidah Islam. Apalagi jika ritual itu disertai persembahan pada kekuatan gaib, atau meminta keselamatan pada selain Allah. Dalam pandangan ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah, hal itu dapat menggiring pelakunya pada kesyirikan besar.

Baca juga :

Beberapa tokoh agama dan ormas Islam seperti Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah berulang kali mengimbau agar umat Islam tidak mencampuradukkan ajaran tauhid dengan budaya lokal yang bertentangan dengan syariat. Menjaga tauhid di bulan Muharram justru menjadi bentuk penghormatan terhadap bulan suci ini. Momentum Muharram semestinya dimanfaatkan untuk memperbanyak amalan sunnah seperti puasa Asyura, memperbanyak zikir, dan memperkuat keimanan.

Kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjauhi syirik memang semakin tumbuh, terutama dengan meningkatnya edukasi keislaman lewat media sosial dan kajian daring. Namun, masih diperlukan peran aktif ulama, tokoh masyarakat, hingga pemerintah daerah untuk meluruskan tradisi yang menyimpang agar tidak terus-menerus diwariskan.

Bulan Muharram seharusnya menjadi momentum penyucian diri, bukan justru saat untuk melakukan hal-hal yang menodai kesucian akidah. Menjauhi syirik dan memperkuat tauhid adalah bentuk penghambaan sejati yang menjadi inti dari ajaran Islam, apalagi di waktu-waktu yang dimuliakan seperti bulan Muharram.

TAGS : Syirik bulan Muharam suro Islam

Terkini