KEISLAMAN

Jihad atau Damai, Mana yang Lebih Ditekankan dalam Islam?

Vaza Diva Fadhillah Akbar| Jum'at, 27/06/2025
Bagaimana ajaran Islam memandang tentang perang? ini penjelasannya Ilustrasi - Perang (Foto: AI)

Jakarta, Terasmuslim.com - Ketegangan terbaru antara Iran dan Israel kembali menyulut perhatian global. Ketika rudal bersahutan dan retorika politik memanas, dunia menyaksikan konflik yang tak sekadar bersifat geopolitik, tetapi juga membawa implikasi ideologis dan keagamaan.

Umat Islam pun dihadapkan pada pertanyaan penting, bagaimana menyikapi konflik ini sesuai dengan ajaran Islam?

Islam sejatinya hadir sebagai agama yang mengedepankan rahmat dan kedamaian. Rasulullah SAW sendiri adalah teladan utama dalam menyebarkan kasih sayang dan mencegah pertumpahan darah.

Dalam banyak hadis dan ayat, Islam memerintahkan umatnya untuk menghindari kekerasan dan senantiasa menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.

Baca juga :

Salah satu ayat yang sering menjadi pusat perhatian adalah firman Allah dalam QS. Al-Baqarah: 216:

"كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَّكُمْ"

"Diwajibkan atas kamu berperang, padahal itu sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui."

Ayat ini menunjukkan bahwa meskipun perang terkadang menjadi pilihan terakhir, Islam tetap memandangnya sebagai sesuatu yang tidak diinginkan. Jiwa seorang Muslim sejatinya lebih cenderung kepada kedamaian daripada kekerasan.

Namun, tidak jarang sebagian umat keliru memahami ayat-ayat jihad secara parsial. Misalnya QS. Al-Fath: 29:

"أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ"

"Keras terhadap orang kafir, namun penuh kasih di antara sesama mereka."

Ayat ini sering disalahartikan sebagai legitimasi untuk berlaku kasar. Padahal, konteksnya adalah saat perjanjian Hudaibiyah—di mana Rasulullah menunjukkan sikap lunak dan diplomatis, bukan kekerasan.

Ulama besar seperti Syekh Muhammad Abduh pernah mengingatkan, “Al-Islamu mahjubun bil muslimin” — Islam tertutupi oleh perilaku sebagian umatnya. Sikap keras, radikal, dan tidak toleran justru menjauhkan Islam dari nilai rahmat yang menjadi intinya.

Prof. Quraish Shihab juga menekankan bahwa radikalisme dalam bentuk apa pun akan menghalangi turunnya rahmat Allah. Sebaliknya, umat Islam harus menjadi cermin kedamaian—menebar salam, menjaga lisan, dan berdakwah dengan hikmah.

Dengan demikian, sikap umat Islam terhadap konflik dunia haruslah seimbang: membela keadilan tanpa melupakan etika, mendukung kebenaran tanpa meninggalkan akhlak. Karena sejatinya, Islam adalah agama yang datang membawa damai—bukan perang.

TAGS : Islam Perang Damai Jihad Al-Qur`an

Terkini