
Ilustrasi foto Imam Nawawi Albantani
Terasmuslim.com - Di balik kemegahan sejarah Islam di Timur Tengah, terdapat jejak seorang ulama besar asal Nusantara yang namanya berkibar di Mekkah. Dialah Imam Nawawi al-Bantani, ulama karismatik dari Banten yang menjadi rujukan keilmuan di Tanah Suci pada abad ke-19. Sosoknya tidak hanya menjadi kebanggaan Banten, tetapi juga Indonesia secara keseluruhan, karena jasanya dalam membumikan ilmu Islam dan membawa harum nama bangsa di mata dunia.
Nama lengkapnya adalah Muhammad Nawawi bin Umar bin Arabi al-Jawi al-Bantani. Ia lahir di Tanara, Serang, Banten, sekitar tahun 1813 M (1228 H). Sejak kecil, ia menunjukkan kecintaan luar biasa terhadap ilmu. Ayahnya, Umar bin Arabi, adalah seorang ulama dan guru yang pertama kali mengajarkan ilmu-ilmu dasar agama kepada Nawawi. Kehausan ilmunya kemudian membawanya merantau ke berbagai kota di Nusantara sebelum akhirnya menuntut ilmu ke Mekkah pada usia sekitar 15 tahun.
Setibanya di Mekkah, Nawawi muda belajar kepada para ulama besar seperti Syekh Ahmad bin Zaini Dahlan, mufti besar Mekkah kala itu. Kecerdasannya mencuri perhatian. Ia begitu cepat menguasai berbagai disiplin ilmu mulai dari tafsir, fikih, hadis, hingga tasawuf. Tak butuh waktu lama, ia pun diakui sebagai salah satu ulama penting di Masjidil Haram dan mulai mengajar di sana.
Sebagai ulama produktif, Imam Nawawi menulis lebih dari 100 kitab. Di antara karya terkenalnya adalah Tafsir Marah Labid (dikenal juga dengan Tafsir Munir), Nihayatuz Zain, dan Kasyifatus Saja. Karya-karyanya banyak dipakai di pesantren-pesantren hingga saat ini, khususnya dalam mazhab Syafi’i. Gaya penulisannya dikenal mendalam namun tetap mudah dipahami, menunjukkan keluasan ilmunya dan kecintaannya dalam menyampaikan syariat Islam.
Uniknya, dalam setiap karyanya, Imam Nawawi sering mencantumkan kata "al-Jawi" atau "al-Bantani", penanda bahwa ia berasal dari Jawa lebih tepatnya dari Banten. Hal ini membuat dunia Islam saat itu menyadari bahwa Indonesia (yang kala itu belum bernama demikian) memiliki ulama besar yang sangat dihormati.
Kehidupan Imam Nawawi sangat sederhana. Ia dikenal sebagai ulama zuhud, tidak terikat dengan kekuasaan, dan tidak tergoda dengan gemerlap dunia. Bahkan ketika ditawari jabatan mufti di Mekkah, ia menolaknya demi menjaga independensinya dalam menyampaikan ilmu.
Imam Nawawi wafat di Mekkah pada tahun 1897 M (1314 H), dan dimakamkan di Ma`la, tak jauh dari makam Sayyidah Khadijah. Hingga kini, namanya tetap dikenang sebagai mutiara dari Banten yang sinarnya sampai ke jantung peradaban Islam.
TAGS : Ulama Banten Indonesia Islam