KEISLAMAN
Perlu Tahu Ibadah Ketika Safar dalam Islam: Keringanan dan Keutamaan
Yahya Sukamdani| Minggu, 15/06/2025
Ilustrasi foto ibadah ketika safar
Terasmuslim.com - Dalam Islam, safar atau perjalanan jauh bukan hanya aktivitas duniawi, tetapi juga memiliki dimensi ibadah. Syariat Islam sangat memperhatikan kondisi musafir, sehingga memberikan beberapa keringanan (rukhshah) yang memudahkan pelaksanaan ibadah tanpa mengurangi nilai spiritualnya.
Berikut penjelasan lengkap bagaimana ibadah dilakukan ketika dalam keadaan safar:
- Salat dalam safar
- Salat Qashar (memendekkan salat)
- Salat yang empat rakaat (Dzuhur, Ashar, Isya) boleh dipendekkan menjadi dua rakaat.
- Berlaku jika jarak perjalanan mencapai minimal sekitar 80–90 km (menurut jumhur ulama).
- Tidak berlaku untuk salat Maghrib dan Subuh karena rakaatnya tidak genap empat.
Dalil:
"Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah berdosa kamu mengqashar salat..."
(QS. An-Nisa: 101)
- Salat Jamak (menggabung dua waktu salat)
- Jamak Taqdim: salat Dzuhur digabung dengan Ashar di waktu Dzuhur, atau Maghrib dengan Isya di waktu Maghrib.
- Jamak Takhir: salat Dzuhur digabung dengan Ashar di waktu Ashar, atau Maghrib dengan Isya di waktu Isya.
- Salat tetap dilakukan dua rakaat jika di-qashar, tapi waktunya digabung.
Tujuan: memudahkan ibadah tanpa harus berhenti dua kali di jalan.
- Puasa saat safar
- Musafir diperbolehkan untuk tidak berpuasa di bulan Ramadan jika dirasa berat.
- Namun jika kuat dan tidak merepotkan, maka boleh tetap berpuasa.
- Wajib mengganti (qadha) puasa yang ditinggalkan di hari lain.
Dalil:
"Barang siapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan, maka (wajib menggantinya) pada hari-hari yang lain."
(QS. Al-Baqarah: 184)
- Zikir dan doa safar
Rasulullah ﷺ mengajarkan banyak doa dan zikir saat safar, seperti:
- Doa menaiki kendaraan
- Doa keluar rumah
- Doa masuk kota
- Takbir saat naik atau menanjak
- Tasbih saat turun
Contoh doa safar:
"Subhânalladzî sakh-khara lanâ hâdzâ wa mâ kunnâ lahu muqrinin, wa innâ ilâ rabbinâ lamunqalibûn..."
(HR. Muslim)
- Tata krama dan etika selama safar
- Berniat baik sejak awal perjalanan (untuk silaturahmi, ibadah, bekerja halal)
- Menjaga akhlak dan kesabaran
- Tidak menyusahkan orang lain
- Tidak meninggalkan salat meski sedang dalam kendaraan
- Bersikap tawakal dan optimis
- Tata cara salat di kendaraan
Jika tidak memungkinkan turun dari kendaraan dan khawatir waktu salat habis:
- Salat bisa dilakukan di kendaraan (mobil, kereta, pesawat)
- Arah kiblat diusahakan sesuai kemampuan
- Gerakan salat disesuaikan dengan kondisi duduk
Islam adalah agama yang penuh rahmat. Ketika seorang Muslim bersafar, syariat memberikan berbagai keringanan agar tetap bisa menjalankan ibadah dengan nyaman dan khusyuk. Ibadah saat safar bukan beban, tapi justru bisa menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah di tengah tantangan perjalanan. Maka, jangan tinggalkan salat, perbanyak doa, dan jadikan safar sebagai jalan menuju keberkahan.
TAGS : Ibadah safar perjalanan Islam