
Ilustrasi foto safar
Terasmuslim.com - Melakukan perjalanan jauh atau safar bukan hanya soal persiapan logistik. Dalam Islam, safar juga menjadi momen untuk memperkuat iman, melatih kesabaran, sekaligus menjaga adab. Nabi Muhammad ﷺ memberikan banyak contoh bagaimana seharusnya seorang Muslim bersikap ketika bepergian, baik dalam hal ibadah, akhlak, hingga interaksi sosial selama di jalan.
Perjalanan, apalagi yang memakan waktu lama, kerap menjadi ujian. Fisik terkuras, emosi mudah goyah, dan peluang berbuat salah bisa terbuka lebar. Di sinilah pentingnya menjaga adab. Adab safar bukan hanya etika, tetapi juga bentuk ketaatan kepada Allah dan upaya meneladani Rasulullah.
Dalam banyak hadis, disebutkan bahwa safar adalah sebagian dari “azab” karena menghalangi kenyamanan rumah dan waktu istirahat. Namun dengan menjaga adab, safar bisa berubah menjadi ladang pahala dan pengalaman spiritual yang bermakna. Berikut ini beberapa adab ketika safar menurut Islam:
Setiap perjalanan dalam Islam hendaknya dimulai dengan niat yang baik, seperti menuntut ilmu, silaturahmi, atau urusan kerja yang halal. Rasulullah ﷺ juga mengajarkan doa sebelum safar, seperti membaca:
"Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar. Subhânal-ladzî sakh-khara lanâ hâdzâ wa mâ kunnâ lahu muqrinin. Wa innâ ilâ rabbinâ lamunqalibûn."
Doa ini mengingatkan bahwa manusia hanyalah makhluk lemah yang bergantung pada pertolongan Allah dalam setiap perjalanan.
Sunnah Rasulullah adalah berpamitan kepada keluarga sebelum berangkat dan saling mendoakan. Ucapan yang dianjurkan adalah: "Astawdi‘ullâha dînak, wa amânatak, wa khawâtîma ‘amalik" (Aku titipkan agamamu, amanahmu, dan akhir amalmu kepada Allah). Ini menjadi cara menjaga ikatan emosional dan spiritual dalam keluarga.
Rasulullah lebih suka bepergian di malam hari atau pagi hari, karena kondisi lebih tenang dan segar. Waktu perjalanan yang baik dapat meminimalkan kelelahan dan risiko bahaya.
Jika safar dilakukan secara berkelompok, Rasulullah menganjurkan untuk menunjuk seorang pemimpin agar perjalanan lebih terorganisasi. Pemimpin ini bertugas mengambil keputusan, mengatur waktu ibadah, dan memastikan semua anggota rombongan dalam keadaan baik.
Saat safar, godaan emosi sangat besar. Maka, seorang Muslim dianjurkan untuk menjaga ucapan, bersikap sopan, dan sabar terhadap berbagai kondisi jalan, cuaca, maupun orang lain. Ini bagian dari jihad kecil yang penuh keberkahan.
Islam memberi keringanan bagi musafir, yaitu boleh menjamak (menggabung) dan mengqashar (memendekkan) salat selama masa perjalanan. Ini menunjukkan betapa agama ini memahami kondisi manusia, tapi tetap mengutamakan kewajiban ibadah.
Jika urusan safar telah selesai, Rasulullah menganjurkan untuk segera pulang. Karena terlalu lama bepergian dapat membuat keluarga merasa khawatir dan menimbulkan rasa kehilangan. Bahkan, Rasulullah menyukai kepulangan yang membawa oleh-oleh kebahagiaan bagi keluarga.
Ketika kembali dari safar, Rasulullah membaca doa yang mirip dengan doa berangkat, sebagai bentuk rasa syukur. Beliau juga bertakbir tiga kali sebelum masuk kota, sebagai simbol kemenangan dan selamat kembali.
Adab ketika safar dalam Islam bukan sekadar tata krama, tetapi juga bekal rohani yang memperkuat jiwa selama perjalanan. Dengan niat yang benar dan sikap yang santun, safar bukan hanya aman secara fisik, tetapi juga menjadi jalan pulang yang menyejukkan hati dan membawa pahala. Dalam setiap langkah di jalanan, ada cermin ketakwaan seorang Muslim.
TAGS : Safar perjalanan adab aturan Islam