
Ilustrasi Tidak ada hari sial dalam Islam
Terasmuslim.com - Bagi sebagian masyarakat Indonesia, memilih “hari baik” untuk menikah, pindah rumah, atau memulai usaha adalah tradisi yang dianggap penting. Biasanya, pemilihan hari ini merujuk pada kalender Jawa, weton, atau hitungan tertentu yang diwariskan secara turun-temurun. Namun, bagaimana Islam memandang soal penentuan hari baik ini?
Dalam Islam, tidak dikenal konsep hari sial atau hari penuh keberuntungan yang bersifat mutlak. Tidak ada dalil dalam Al-Qur’an maupun hadis sahih yang menyebut hari tertentu sebagai pembawa sial atau keberuntungan secara tetap bagi setiap orang. Islam menekankan bahwa semua hari adalah ciptaan Allah dan memiliki potensi kebaikan jika dimulai dengan niat yang benar.
Islam tidak mengenal hari sial
Kepercayaan tentang hari sial atau waktu tertentu yang dianggap membawa malapetaka disebut sebagai tathayyur, dan hal ini ditolak oleh Rasulullah ﷺ. Dalam hadis yang diriwayatkan Imam Muslim, Nabi bersabda:
"Tidak ada thiyarah (takhayul atau anggapan sial), tidak ada kesialan pada burung, tidak ada kesialan pada bulan Safar."
Dengan kata lain, menghindari hari tertentu karena dianggap sial bisa menyeret seseorang kepada bentuk syirik kecil, yaitu meyakini adanya kekuatan selain Allah dalam menentukan nasib.
Islam mengenal hari yang diberkahi
Meskipun tidak ada larangan terhadap hari-hari tertentu, Islam mengenal hari-hari yang dimuliakan atau memiliki keutamaan ibadah. Contohnya:
Namun, semua ini bersifat anjuran, bukan kewajiban atau jaminan keberhasilan.
Islam anjurkan doa dan tawakal, bukan takhayul
Alih-alih mencari “hari hoki” lewat perhitungan yang tidak jelas dasarnya, Islam mengajarkan untuk memulai sesuatu dengan:
“Jika engkau telah bertekad, maka bertawakallah kepada Allah.”
(QS. Ali Imran: 159)
Bijak menyikapi tradisi lokal
Islam tidak menolak budaya selama tidak bertentangan dengan syariat. Jika seseorang memilih hari karena alasan praktis, seperti agar keluarga bisa hadir atau biaya lebih terjangkau, maka hal itu diperbolehkan. Yang tidak dibenarkan adalah meyakini secara pasti bahwa hari tertentu akan membawa celaka atau keberuntungan, tanpa dasar yang jelas dalam agama.
Kesimpulannya, Islam tidak menetapkan hari baik atau hari buruk secara mutlak. Semua hari bisa menjadi baik jika dimulai dengan niat yang benar, disertai doa, dan diiringi tawakal. Menentukan hari berdasarkan kemudahan, kesiapan, dan niat yang tulus jauh lebih ditekankan dalam Islam ketimbang percaya pada perhitungan mistis yang tak berdasar.
TAGS : Hari sial Islam