
Ilustrasi (foto:acc one)
Terasmuslim.com - Dalam pergaulan modern, banyak orang meyakini bahwa hubungan yang ideal adalah hubungan yang saling melengkapi. Istilah ini kerap diartikan bahwa kekurangan dalam diri seseorang akan ditutupi oleh kelebihan pasangannya. Namun, pandangan ini mulai dikritisi oleh sebagian kalangan, termasuk generasi muda muslim yang mulai menimbang ulang makna sejati dari hubungan dalam perspektif Islam.
Hubungan yang baik bukan semata tentang saling menutupi kekurangan, tetapi tentang dua pribadi yang sama-sama kuat secara mandiri, lalu bersatu untuk saling mengingatkan dan menguatkan dalam kebaikan.
Lebih lanjut, contoh yang relevan dalam kehidupan sehari-hari, khususnya dalam konteks religius. Misalnya ada seorang laki-laki masih lemah dalam menjalankan kewajiban agama. Lalu mencari pasangan yang sholehah, alim, dan taat.
Tapi setelah menikah, laki-laki itu tidak juga memperbaiki ibadahnya, tidak pernah sholat berjamaah bersama, bahkan tetap malas menjalankan perintah agama. Bukankah itu artinya laki-laki itu membebankan tugas perbaikan dirinya kepada pasangan?
Dalam konteks ini, memperbaiki iman dan amal adalah tanggung jawab pribadi yang tidak bisa digantikan orang lain. Pasangan kita memang bisa mengingatkan, tapi bukan berarti tugas utama membangun keimanan kita berpindah.
Kemudian ada juga analogi lain terkait kebiasaan dalam hal pengelolaan keuangan. Kalau laki-laki yang boros, lalu menikahi perempuan yang hemat dan pandai mengatur keuangan, tapi tetap saja laki-laki menghabiskan uang mereka tanpa kendali, bukankah justru membuat pasangannya lelah karena harus menambal terus kekacauan yang telah laki-laki itu buat?
Pandangan ini mengarah pada kesimpulan menarik yang dilontarkan secara sederhana namun penuh makna. Kalau hubungan itu seperti angka, maka saling melengkapi itu seperti plus 3 dan minus 3. Hasilnya nol. Tapi kalau dua-duanya sama-sama kuat, sama-sama plus 3, hasilnya jadi 6. Bukankah itu jauh lebih baik?
Dari perspektif Islam, pandangan ini sejalan dengan prinsip tazkiyatun nafs (penyucian diri) yang menjadi tanggung jawab pribadi setiap muslim. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Syams ayat 9–10: “Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.”
Pernikahan pun, Islam mengajarkan bahwa pasangan adalah libas (pakaian) satu sama lain (QS. Al-Baqarah: 187), yang berarti saling melindungi dan menghiasi, bukan memperbaiki satu sama lain dari nol. Keduanya harus hadir dalam kondisi siap dan dewasa, baik secara ruhani maupun akhlak.
Dengan demikian, membangun hubungan yang kokoh tidak bisa hanya bersandar pada harapan untuk dilengkapi, tetapi harus dimulai dari niat untuk saling menguatkan sebagai dua insan yang sudah lebih dahulu membina kekuatan dalam dirinya masing-masing.
TAGS : Pasangan Modern Islam Al-Qur`an