KEISLAMAN

Terbiasa Meminta Tanpa Usaha, Apa Kata Buya Yahya?

Vaza Diva Fadhillah Akbar| Sabtu, 17/05/2025
Fenomena orang yang terbiasa meminta tanpa usaha masih sering dijumpai di tengah masyarakat. Ilustrasi meminta-minta tanpa adanya usaha (foto:ruangkeluarga)

Terasmuslim.com - Fenomena orang yang terbiasa meminta tanpa usaha masih sering dijumpai di tengah masyarakat. Kebiasaan ini menjadi sorotan karena bertolak belakang dengan prinsip ajaran Islam yang mengutamakan kerja keras, kemandirian, dan menjaga harga diri.

Dalam sebuah video yang dikutip pada Jumat (16/5) di kanal YouTube @buyayahyaofficial, KH Yahya Zainul Ma’arif, atau yang lebih dikenal dengan Buya Yahya, menyampaikan pandangan Islam tentang kebiasaan meminta-minta. Ia menegaskan bahwa Islam sangat menjunjung tinggi nilai usaha, dan meminta secara terus-menerus tanpa ikhtiar adalah sikap yang tidak sesuai dengan semangat ajaran Islam.

“Ada sebagian orang yang menjadikan meminta sebagai kebiasaan. Ini mentalitas yang tidak Islami. Seorang Muslim sejati seharusnya punya semangat untuk berusaha dan tidak terus-menerus bergantung kepada orang lain,” ujar Buya Yahya dalam tayangan tersebut.

Buya Yahya menjelaskan bahwa Rasulullah SAW mengajarkan umatnya untuk menjadi pemberi, bukan sekadar penerima. Dalam Islam, tangan yang memberi lebih mulia dibandingkan tangan yang menerima. Untuk bisa memberi, tentu dibutuhkan usaha dan kemandirian dalam memenuhi kebutuhan hidup.

Baca juga :

Namun demikian, Buya juga menegaskan bahwa Islam tidak melarang seseorang meminta bantuan dalam kondisi darurat. Menurutnya, meminta tolong boleh saja jika memang diperlukan, tetapi tidak boleh menjadi kebiasaan yang melemahkan semangat hidup mandiri.

“Kalau memang ada kebutuhan mendesak, silahkan meminta bantuan. Tapi jangan sampai itu berubah jadi pola hidup. Jangan sampai kita kehilangan martabat karena terus-menerus mengandalkan orang lain,” jelasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa dalam Islam, membantu sesama adalah amalan mulia. Maka jika ada yang datang meminta pertolongan dan kita mampu membantu, sebaiknya ditolong. Tapi dengan catatan, bantuan itu tidak menjadi beban atau membuka celah eksploitasi.

“Memberi tidak selalu berarti uang. Bisa juga waktu, tenaga, atau sekadar memberi nasihat. Tapi kita harus bijak juga, jangan sampai bantuan yang kita berikan malah membuat orang lain jadi malas berusaha,” tutur Buya.

Kebiasaan meminta tanpa alasan yang jelas, menurutnya, bisa mengganggu hubungan sosial. Orang-orang di sekitar bisa merasa tidak nyaman atau bahkan menjauh karena merasa dimanfaatkan. Oleh karena itu, menjaga kehormatan dan kemandirian adalah bagian dari akhlak mulia yang diajarkan Islam.

“Menjaga harga diri itu penting. Kalau kita terus-terusan meminta, bagaimana orang lain bisa menghormati kita? Lebih baik belajar mencari solusi, meski sederhana, daripada terus berharap pada orang lain,” katanya.

Sebagai solusi, Buya Yahya mendorong agar masyarakat mulai belajar mandiri dari hal-hal kecil. Mulailah dengan memanfaatkan potensi diri dan lingkungan sekitar. Seiring waktu, kemampuan akan berkembang dan sikap bergantung pun bisa dikurangi.

“Mandiri bukan hanya menguntungkan diri sendiri, tapi juga mengangkat derajat dan memberi dampak positif bagi orang lain,” ujarnya.

Buya Yahya menutup pesannya dengan ajakan untuk terus berusaha dan berserah diri kepada Allah dalam setiap usaha yang dilakukan. Ia menekankan bahwa keberkahan akan datang jika seseorang mau berikhtiar dan tidak mudah menyerah.

“Lakukan yang terbaik, hasilnya serahkan pada Allah. Dan apapun hasilnya, bersyukurlah. Di situlah letak keberkahan hidup,” pungkasnya.

Pesan ini menjadi pengingat bagi umat Islam agar tidak terjebak dalam kebiasaan meminta-minta yang dapat merusak harga diri. Islam mengajarkan keseimbangan antara ikhtiar dan tawakal, serta menanamkan semangat menjadi pribadi yang mandiri dan bermanfaat bagi sesama.

TAGS : Buya Yahya Rasulullah SAW Islam Meminta

Terkini