
Ilustrasi (Foto: Pexels/Towfiqu barbhuiya)
Terasmuslim.com - Hidup sering kali dipahami sebagai perjalanan menuju pencapaian, seperti gelar, jabatan, kekayaan, atau pengakuan dari orang lain. Dalam budaya Indonesia, tidak sedikit orang yang mengaitkan kebahagiaan dengan keberhasilan meraih hal-hal tersebut.
Namun, ulama dan ahli tafsir KH Ahmad Bahauddin Nursalim, atau yang lebih dikenal sebagai Gus Baha, mengingatkan bahwa kebahagiaan tidak terletak pada seberapa banyak yang kita miliki, melainkan seberapa mampu kita merasa cukup.
Dalam sebuah video yang tayang di kanal YouTube @SUDARNOPRANOTO pada Selasa (13/5), Gus Baha mengulas secara kritis cara pandang masyarakat terhadap makna hidup dan sumber kebahagiaan. Ia menyampaikan, “Hidup sekarang itu diartikan sebagai upaya untuk memiliki sebanyak mungkin, padahal itu justru membuat hidup bergantung pada banyak hal.”
Menurut Gus Baha, pola pikir semacam ini menjebak manusia dalam lingkaran kebutuhan yang tak berkesudahan. Mereka yang merasa harus terus memenuhi berbagai keinginan cenderung menjadi pribadi yang rapuh, karena kebahagiaannya ditentukan oleh hal-hal eksternal yang sifatnya tidak kekal.
"Orang yang bahagia itu bukan yang memiliki banyak, tapi yang tidak butuh banyak," ucapnya. Dalam pandangannya, orang cerdas justru adalah mereka yang bisa membatasi kebutuhannya dan tidak hidup dari ketergantungan pada hal-hal duniawi yang terus berubah.
Gus Baha menyinggung fenomena umum di masyarakat, di mana kebahagiaan baru dirasa jika seseorang telah mencapai posisi tertentu, menjadi dokter, ulama ternama, atau figur publik yang dikenal luas. Padahal, menurutnya, kebahagiaan semacam itu sangat rapuh dan mudah pudar.
Sebaliknya, beliau memberi contoh orang-orang sederhana yang bisa menikmati hidup hanya dengan secangkir kopi. Mereka merasa cukup, dan dari rasa cukup itulah lahir kebahagiaan sejati. “Nikmat itu bisa besar, meskipun hanya dari secangkir kopi, kalau kita merasa cukup,” jelasnya.
Ia juga mengkritik mereka yang hidupnya dikuasai oleh kebutuhan tak terbatas. “Orang yang banyak kebutuhannya, justru menunjukkan betapa besar kebodohannya. Karena dia menggantungkan kebahagiaannya pada hal-hal yang tidak tetap,” tegas Gus Baha.
Mengutip Imam Syafi’i, Gus Baha menjelaskan bahwa ‘al-istighna’ atau kecukupan adalah ketika seseorang mampu menjauh dari hal-hal yang sebenarnya tidak perlu. Artinya, upaya untuk bahagia bukan dengan memenuhi semua keinginan, tetapi dengan menyadari mana yang benar-benar dibutuhkan.
“Nafsu itu tidak akan pernah selesai kalau terus dituruti. Kalau semua keinginan dipenuhi, kamu tidak akan pernah benar-benar puas,” ujarnya.
Melalui penjelasannya, Gus Baha mengajak umat Islam untuk merenungkan kembali apa yang sebenarnya penting dalam hidup. Ia menekankan bahwa hidup yang baik bukanlah hidup yang dikelilingi oleh banyak hal, tetapi yang dipenuhi oleh rasa cukup dan syukur.
"Hidup ini bukan soal menumpuk banyak hal, tapi bagaimana kita bisa tenang dengan apa yang ada," tuturnya.
Ia juga mengingatkan bahwa banyak orang terjebak dalam pola hidup yang penuh ambisi, tanpa menyadari bahwa mereka sedang mengorbankan kebahagiaan yang sejati. "Jangan sampai kita sibuk mengejar sesuatu yang tidak benar-benar penting," pesannya.
Menurut Gus Baha, kebodohan sejati bukan hanya kekurangan pengetahuan, tetapi juga kesalahan dalam menentukan arah hidup. “Ketika kita percaya bahwa kebahagiaan berasal dari hal-hal remeh dan tidak esensial, di situlah kebodohan terjadi,” jelasnya.
Di akhir pesannya, Gus Baha mengajak umat Islam untuk menjaga niat, memperjelas tujuan hidup, dan tidak terjebak dalam godaan dunia yang menipu. “Kalau niat dan tujuan hidup kita lurus, maka hidup akan lebih berarti,” tutupnya.
TAGS : Makna Hidup Gus Baha Islam Meraih Kebahagiaan