KEISLAMAN

Pandangan Islam Tentang Perempuan Pakai Rok Atau Celana, Ini Kata Buya Yahya

Vaza Diva Fadhillah Akbar| Kamis, 15/05/2025
Perubahan zaman kerap membawa pergeseran dalam gaya berpakaian, termasuk di kalangan perempuan muslimah. Tidak sedikit yang kemudian bertanya-tanya, bagaimana sebenarnya pandangan Islam terhadap perempuan yang mengenakan rok atau celana? Buya Yahya (Foto: liputan6)

Terasmuslim.com - Perubahan zaman kerap membawa pergeseran dalam gaya berpakaian, termasuk di kalangan perempuan muslimah. Tidak sedikit yang kemudian bertanya-tanya, bagaimana sebenarnya pandangan Islam terhadap perempuan yang mengenakan rok atau celana? Apakah selama aurat tertutup pakaian tersebut diperbolehkan, atau ada ketentuan lain yang harus diperhatikan?

Menanggapi hal ini, pendakwah kondang KH Yahya Zainul Ma`arif atau yang akrab disapa Buya Yahya memberikan penjelasan secara mendalam. Dalam sebuah video yang diunggah melalui kanal YouTube @buyayahyaofficial dan dikutip pada Rabu (13/5), Buya Yahya menyampaikan bahwa inti dari berpakaian dalam Islam adalah menjaga aurat dengan syarat tertentu.

Beliau menyebutkan bahwa dua hal utama yang menjadi pedoman dalam berpakaian bagi perempuan adalah menutup seluruh bagian tubuh yang dianggap aurat dan tidak memperlihatkan bentuk tubuh secara jelas. Dalam pandangannya, menutup aurat bukan sekadar menutupi kulit, melainkan juga menghindari pakaian yang membentuk tubuh.

Terkait dengan model pakaian, Buya Yahya menekankan bahwa tidak ada keharusan bagi perempuan untuk selalu mengenakan gamis atau pakaian terusan. Yang menjadi prioritas adalah fungsi pakaian tersebut dalam menutupi aurat dengan sempurna dan tidak ketat. Selama pakaian tersebut memenuhi dua kriteria itu, maka tidak menjadi persoalan apakah bentuknya gamis, rok, atau celana panjang.

Baca juga :

Meski demikian, Buya Yahya mengingatkan agar umat Islam, khususnya perempuan, lebih bijak dalam memilih pakaian. Ia menyebut bahwa meskipun pakaian terlihat longgar, jika masih membentuk lekuk tubuh di bagian tertentu, maka hal itu tetap bisa menimbulkan syahwat bagi lawan jenis. Oleh sebab itu, kehati-hatian dalam berpakaian menjadi penting untuk menjaga diri dari pandangan yang tidak diinginkan.

Lebih lanjut, beliau mengajak para muslimah untuk tidak hanya menjadikan menutup aurat sebagai rutinitas formalitas, tetapi juga sebagai bentuk ibadah yang dilakukan dengan penuh keikhlasan kepada Allah SWT. Dalam setiap waktu ketika seorang perempuan menutup auratnya dengan baik, menurut Buya Yahya, ada pahala yang terus mengalir.

Terkait kondisi tertentu seperti aturan di tempat kerja atau lingkungan pendidikan, Buya Yahya mengakui adanya kebijakan institusi yang bisa saja mempengaruhi model pakaian. Namun, ia menegaskan bahwa selama pakaian yang dikenakan tetap menjaga prinsip syar’i — yakni menutupi aurat dan tidak memperlihatkan bentuk tubuh — maka tidak ada masalah yang perlu dikhawatirkan.

Beliau juga mengingatkan agar umat Islam tidak bersikap merendahkan atau mencemooh perempuan yang belum sempurna dalam menutup auratnya. Ada banyak faktor yang dapat mempengaruhi pilihan seseorang, seperti kondisi keluarga, izin dari suami atau orang tua, bahkan tekanan dari lingkungan sosial. Menurutnya, pendekatan yang bijak adalah dengan memberikan dukungan dan doa agar mereka diberi kemudahan untuk terus memperbaiki diri.

Dalam pandangannya, perempuan yang menjaga busana dengan baik adalah perempuan yang mampu mempertahankan kehormatannya tanpa merasa risih dengan apa yang ia kenakan. Ia menambahkan, busana syar’i tidak hanya berlaku di ruang publik atau saat mengikuti kegiatan keagamaan, tetapi juga di rumah, terutama jika ada laki-laki yang bukan mahram, seperti pembantu atau tamu.

Dengan penjelasan yang disampaikan secara lembut namun tegas, Buya Yahya berharap agar para perempuan muslimah dapat semakin memahami pentingnya berpakaian sesuai tuntunan syariat. Menurutnya, setiap usaha untuk menjaga aurat dengan baik akan menjadi bentuk ketaatan yang bernilai di sisi Allah.

Ia pun menutup penjelasannya dengan doa agar umat Islam senantiasa diberikan kemudahan dalam menjalankan perintah agama, khususnya dalam menjaga etika berpakaian. Penjelasan ini menjadi penegas bahwa berpakaian sesuai syariat bukanlah beban, melainkan bagian dari bentuk penghambaan kepada Sang Pencipta.

TAGS : Perempuan Gaya Pakaian Islam Buya Yahya

Terkini