UMRAH & HAJI

Pentingnya Umrah dan Haji Menggunakan Harta yang Halal

Yahya Sukamdani| Kamis, 17/04/2025
Ibadah menjadi tidak hanya hubungan vertikal, tetapi juga pesan horizontal akan pentingnya keberkahan dalam setiap aspek kehidupan. Masjidil Haram

Terasmuslim.com - Ibadah umrah dan haji merupakan dua ibadah agung dalam Islam yang memiliki kedudukan mulia dan menjadi impian bagi setiap Muslim yang mampu. Namun, di balik keinginan untuk menunaikan ibadah ini, terdapat sebuah syarat penting yang sering kali terabaikan atau kurang disadari, yaitu kewajiban menggunakan harta yang halal. Tidak hanya sah dari sisi teknis syariat seperti mahram, visa, dan waktu pelaksanaan, tetapi sumber biaya juga harus bersih dari unsur haram agar ibadah tersebut diterima di sisi Allah.

 Islam menempatkan kehalalan rezeki sebagai fondasi dalam setiap bentuk ibadah. Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadits yang sangat kuat maknanya:

"Sesungguhnya Allah itu baik dan tidak menerima kecuali yang baik." (HR. Muslim).

Dari hadits ini, para ulama menegaskan bahwa Allah tidak akan menerima sedekah, infak, bahkan haji atau umrah, jika berasal dari harta yang haram. Maka dari itu, keberangkatan ke tanah suci harus disertai dengan muhasabah terhadap sumber harta yang digunakan, karena ibadah ini bukan sekadar ritual, tetapi juga bentuk totalitas kepatuhan kepada Allah, termasuk dalam urusan muamalah.

Baca juga :

Lebih jauh lagi, menggunakan uang haram untuk berhaji atau berumrah dapat menyebabkan tertolaknya doa dan menghapus keberkahan perjalanan ibadah tersebut. Dalam sebuah kisah yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA, Rasulullah ﷺ menyebutkan tentang seorang musafir yang berdoa dengan sangat khusyuk, namun makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan dikenyangkan dengan yang haram, lalu beliau bersabda: “Bagaimana mungkin doanya dikabulkan?” (HR. Muslim). Kisah ini mengingatkan bahwa ibadah, termasuk haji dan umrah, tidak cukup dengan niat yang kuat atau perjuangan fisik saja, tetapi juga harus bersih dari aspek batin dan sumber dana.

Secara spiritual, harta yang halal memberikan ketenangan batin dan menghadirkan keikhlasan dalam menjalani ibadah. Pelaksanaan umrah dan haji yang dibayar dengan harta halal akan lebih mudah menghadirkan kekhusyukan, mempercepat pengabulan doa, dan membawa pulang pahala serta perubahan diri yang sejati. Bahkan, para ulama salaf menyatakan bahwa haji yang mabrur sulit dicapai bila dana yang digunakan berasal dari sumber syubhat, apalagi haram secara jelas.

Selain itu, keberangkatan ke tanah suci dengan harta yang halal adalah bentuk nyata dari kesadaran taqwa. Ia menjadi bukti bahwa seorang Muslim tidak hanya taat di masjid, tetapi juga dalam urusan duniawi. Hal ini sesuai dengan perintah Allah dalam Al-Qur`an:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ

"Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah dari rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu..." (QS. Al-Baqarah: 172).

Dalam konteks sosial, umrah dan haji dengan harta halal juga menjadi teladan kebaikan. Di tengah maraknya praktik korupsi, riba, dan penipuan, Muslim yang berhaji dengan rezeki bersih menunjukkan bahwa integritas moral dan spiritual masih dijunjung tinggi. Ibadah menjadi tidak hanya hubungan vertikal, tetapi juga pesan horizontal kepada masyarakat akan pentingnya keberkahan dalam setiap aspek kehidupan.

Kehalalan harta dalam ibadah umrah dan haji bukan sekadar tambahan etika, tetapi menjadi syarat utama diterimanya ibadah di sisi Allah. Ibadah dengan harta yang haram tidak hanya berisiko tidak diterima, tetapi juga berpotensi membawa dampak negatif terhadap jiwa, keluarga, dan keberkahan hidup setelah kembali dari tanah suci. Maka dari itu, sebelum berangkat ke Baitullah, pastikan bahwa setiap rupiah yang dibawa adalah rezeki yang halal, bersih, dan penuh keberkahan.

TAGS : Harta halal haji umrah

Terkini