KEISLAMAN

Belajar dari Film Bidaah, Hati-hati Terjerumus karena Salah Guru

Vaza Diva Fadhillah Akbar| Minggu, 13/04/2025
Film Bidaah dan pesan Buya Yahya menjadi dua sudut pandang yang berpadu menyampaikan pesan yang sama: Jangan sampai salah memilih guru. Karena guru yang sesat bisa menyesatkan banyak jiwa. Ilustrasi tokoh pemeran film Bidaah (Foto: linggauposbacakoran)

Terasmuslim.com - Narasi kebenaran bisa berubah menyesatkan ketika berada di tangan yang salah. Hal ini menjadi benang merah dalam film Bidaah, sebuah karya dari Malaysia yang menyajikan kritik tajam terhadap penyimpangan ajaran agama oleh sosok berpengaruh.

Disutradarai oleh Erma Fatima, film ini menghadirkan sosok Walid, seorang ustaz karismatik yang pandai merangkai kata dan menarik simpati umat. Namun, di balik citranya yang menenangkan, tersimpan kepentingan pribadi. Ia membentuk lingkaran eksklusif dan perlahan memanipulasi para pengikutnya dengan ajaran menyimpang.

Bidaah menyorot bagaimana kepercayaan masyarakat dapat dimanfaatkan oleh figur yang kelihatannya religius namun sejatinya menjauh dari nilai-nilai Islam. Retorika manis dijadikan tameng untuk melanggengkan kekuasaan, bahkan hingga mematikan nalar kritis umat.

Fenomena ini mengingatkan pada nasihat KH Yahya Zainul Ma’arif atau Buya Yahya, ulama asal Indonesia yang kerap memberi peringatan tentang pentingnya selektif dalam memilih guru agama. Dalam salah satu ceramahnya yang tayang di kanal YouTube @AlBahjahTV, Buya Yahya menyampaikan bahwa seorang Muslim harus menggunakan akal dan hati nuraninya dalam menentukan sosok panutan.

Baca juga :

"Gunakan akalmu, pikirkan baik-baik. Siapa yang mengajarkan kelembutan, siapa yang menunjukkan keindahan? Ikutilah dia. Karena dari sanalah kamu akan menemukan ketenangan," ujar Buya Yahya.

Buya menggarisbawahi bahwa guru yang benar tidak akan menyebarkan kebencian atau permusuhan. Ciri utamanya adalah lisan yang terjaga dan akhlak yang meneduhkan. Bukan sekadar populer di media sosial atau punya banyak pengikut.

Film Bidaah seolah mengilustrasikan peringatan Buya tersebut. Walid, karakter sentral film, justru menjadikan dirinya pusat ajaran dan melarang pengikutnya membuka diri pada ilmu lain. Doktrin yang disebarkan memutus akses pada pengetahuan luar dan memaksa pengikut untuk bergantung penuh padanya.

Fenomena ini tak hanya terjadi di layar lebar. Di dunia nyata, ada banyak kasus di mana tokoh agama menjadi panutan hanya karena retorika yang memikat atau pencitraan di media. Padahal dalam Islam, sanad keilmuan sangat penting. Ilmu harus diwarisi dari guru yang bersambung ilmunya sampai ke Rasulullah SAW.

Buya Yahya berkali-kali mengingatkan bahwa guru sejati tak membawa umat pada dirinya, melainkan mendekatkan mereka kepada Allah. Ukuran utama adalah akhlak, bukan gaya bicara atau tampilan luar.

"Yang perlu kita waspadai adalah guru yang menjadikan dirinya pusat segalanya. Itu bukan jalan ilmu, itu jalan kesesatan," tegas Buya.

Film Bidaah menjadi pengingat bahwa keimanan pun bisa dimanipulasi, jika tidak disertai dengan ilmu dan hati yang bersih. Penonton diajak untuk lebih kritis: apakah sosok yang mereka ikuti benar-benar membawa kepada kebenaran atau justru menjauh dari ajaran Islam yang lurus?

Di akhir film, kita diajak menyadari bahwa menuntut ilmu dari orang yang tepat adalah kunci keselamatan. Jangan sampai karena terpikat oleh gaya bicara, kita justru terjerumus pada penyimpangan.

Buya Yahya mengajak umat untuk menilai guru dari kelembutan hatinya, tutur katanya, dan sikapnya terhadap sesama. Karena guru yang sejati bukan yang menguasai murid, tapi yang membimbing mereka dengan kasih sayang menuju Allah.

 

 

TAGS : Film Bidaah Salah Guru Buya Yahya Islam

Terkini