KEISLAMAN

Memahami Al-Qur`an Tak Harus Sepakat, Tapi Jangan Saling Menghakimi

Vaza Diva Fadhillah Akbar| Sabtu, 05/04/2025
Perbedaan dalam menafsirkan Al-Qur`an seringkali menjadi sumber perselisihan yang tak jarang membuat umat Islam terpecah belah. Ustadz Adi Hidayat ( Foto: Screenshoot YouTube Adi Hidayat Official)

Terasmuslim.com - Perbedaan dalam menafsirkan Al-Qur`an seringkali menjadi sumber perselisihan yang tak jarang membuat umat Islam terpecah belah. Padahal, esensi dari mempelajari kitab suci adalah untuk mencari petunjuk hidup dan mendekatkan diri kepada Allah, bukan untuk memperdebatkan siapa yang paling benar.

Fenomena ini menjadi sorotan serius dari kalangan ulama, salah satunya Ustadz Adi Hidayat (UAH). Dalam salah satu ceramahnya yang diunggah di kanal YouTube @Sentrasantri, UAH menyampaikan keprihatinannya atas kecenderungan sebagian umat yang mudah menghakimi pemahaman orang lain terkait Al-Qur`an.

"Saya merasa sangat tidak nyaman jika ada yang membaca Al-Qur`an sama, mengakui Nabi yang sama, tapi justru saling menyalahkan," ujar UAH. Ia menegaskan bahwa sikap seperti itu justru bisa menghambat seseorang dalam memahami Islam secara menyeluruh.

Lebih jauh, Ustadz Adi Hidayat memperingatkan tentang bahaya merasa paling benar sendiri. Menurutnya, ketika seseorang merasa pemahamannya absolut dan menutup diri terhadap pandangan lain, maka itu menjadi penghalang besar dalam proses pencarian kebenaran.

Baca juga :

"Yang berbahaya itu bukan hanya berbeda pendapat, tapi ketika seseorang menganggap pendapatnya mutlak benar dan menolak yang lain, di situ letak bahayanya," katanya.

UAH menekankan pentingnya bersikap terbuka dalam menuntut ilmu, karena Islam sendiri mengenal keragaman dalam penafsiran, selama tidak menyimpang dari prinsip dasar agama. Ia mencontohkan para ulama terdahulu yang justru berdiskusi dan saling menghormati meski berbeda pandangan.

Dalam pandangannya, ilmu agama bukan sesuatu yang statis. Pemahaman seseorang bisa terus berkembang seiring dengan belajar dan mendalami ilmu yang lebih luas. Oleh karena itu, rendah hati dan kesediaan untuk mendengar adalah kunci dalam memperluas wawasan keislaman.

“Ilmu itu dinamis. Hari ini kita yakin satu hal, besok bisa jadi kita menemukan kebenaran yang lebih utuh,” ucapnya.

Ustadz Adi juga mengingatkan bahwa perbedaan adalah bagian dari sunnatullah, dan umat Islam seharusnya bisa menyikapinya dengan bijak. Tujuan utama dari membaca dan memahami Al-Qur`an adalah memperoleh petunjuk, bukan mencari-cari kesalahan orang lain.

“Jangan sampai perbedaan pandangan malah menghilangkan ukhuwah Islamiyah. Justru ilmu seharusnya menyatukan, bukan memecah belah,” tuturnya.

Ia menambahkan bahwa tidak semua orang memiliki latar belakang dan kemampuan yang sama dalam memahami agama. Maka dari itu, dialog dan perbedaan harus dihadapi dengan sabar, santun, dan penuh hikmah.

Menurutnya, banyak dari para sahabat Nabi yang juga memiliki pendapat berbeda dalam menafsirkan ayat-ayat Al-Qur`an. Namun, mereka tetap menjaga persaudaraan dan tidak menjadikan perbedaan itu sebagai alasan untuk bermusuhan.

Sebagai penutup, UAH mengajak umat untuk menjadikan ilmu sebagai jalan menuju kedekatan dengan Allah, bukan untuk membanggakan diri atau merendahkan orang lain. Jika niat menuntut ilmu benar, maka perbedaan akan menjadi rahmat, bukan sumber perpecahan.

 

TAGS : Al-Qur`an Memahami Perbedaan Adi Hidayat

Terkini