
KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau Gus Baha (Foto: Screenshoot TikTok)
Terasmuslim.com - Banyak orang mengira bahwa ibadah yang dilakukan secara rutin merupakan bukti ketakwaan tertinggi seorang Muslim. Namun, dalam beberapa pandangan ulama, berpikir dengan mendalam justru bisa lebih bernilai daripada sekadar beribadah tanpa pemahaman yang luas.
Sejarah telah mencatat bahwa banyak tokoh Islam yang memberikan kontribusi besar bagi peradaban melalui pemikiran mereka. Para ilmuwan Muslim di era keemasan Islam, seperti Ibnu Sina dan Al-Farabi, bukan hanya mendalami ilmu agama.
Tetapi juga mengembangkan sains dan filsafat untuk kemaslahatan umat. Ini menunjukkan bahwa berpikir secara bijak dapat memberikan dampak yang lebih luas dibandingkan ibadah yang hanya bersifat individual.
Ulama asal Rembang, KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau yang akrab disapa Gus Baha, menyoroti pentingnya berpikir dalam kehidupan seorang mukmin. Menurutnya, seseorang yang mampu berpikir dengan mendalam bisa memiliki derajat yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang hanya beribadah secara mekanis tanpa pemahaman yang mendalam.
Dalam sebuah ceramah yang diunggah di kanal YouTube @santrigayeng, Gus Baha menjelaskan bahwa berpikir secara serius dalam waktu singkat dapat memiliki nilai yang lebih besar dibandingkan ibadah selama puluhan tahun.
Bahkan, ia menyebutkan bahwa berpikir dengan benar selama beberapa saat bisa menyamai pahala ibadah selama 60 tahun. Jika seseorang mampu berpikir secara mendalam sebanyak dua kali dalam hidupnya, maka ia seolah-olah telah beribadah selama 120 tahun.
“Kalau kamu berpikir sesaat, dua kali, itu sudah seperti ibadah 120 tahun. Umur kita berapa sih rata-rata? Paling 60-an tahun, bisa kurang atau lebih,” ujar Gus Baha dalam video tersebut.
Ia juga menekankan bahwa usia manusia tidak bisa dipastikan. Oleh karena itu, mengandalkan ibadah tanpa disertai pemikiran yang mendalam bisa membuat seseorang kehilangan peluang untuk memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.
Gus Baha membahas perbedaan mendasar antara ahli ibadah dan orang yang berpikir. Menurutnya, ada kecenderungan egoisme dalam ibadah, di mana seseorang hanya berorientasi pada pahala pribadi dan keselamatan diri sendiri tanpa memikirkan manfaat yang lebih luas bagi umat.
“Orang yang hanya fokus ibadah tetaplah saleh. Tapi, kalau tidak berpikir mendalam, bagaimana bisa berkontribusi lebih untuk Islam dan umat?” ujar Gus Baha.
Ia mencontohkan bahwa seorang alim yang berpikir sejenak dengan serius bisa lebih utama dibandingkan seorang abid yang beribadah selama 60 tahun, sebagaimana yang pernah disebutkan oleh ulama besar, Ibnu Hajar Al-Asqolani.
Sebagai contoh, jika seseorang melihat banyak anak-anak di sekitarnya tidak memahami thaharah (bersuci), seorang yang berpikir akan mencari solusi agar mereka bisa mendapatkan ilmu yang benar. Bisa jadi ia membuka kelas pengajian atau mendirikan madrasah. Sementara itu, seorang yang hanya sibuk beribadah tanpa berpikir, mungkin tidak akan berbuat apa-apa untuk memperbaiki keadaan sekitarnya.
Dalam hal ini, berpikir mendalam justru bisa menghasilkan solusi konkret yang bermanfaat bagi masyarakat luas. Oleh sebab itu, Gus Baha menegaskan bahwa Islam tidak hanya tentang menjalankan ritual ibadah, tetapi juga bagaimana seorang Muslim berpikir dan berusaha untuk memberikan kontribusi nyata bagi umat.
Pada dasarnya, Islam mengajarkan keseimbangan antara ibadah dan akal. Allah memerintahkan manusia untuk menggunakan akalnya agar dapat memahami tanda-tanda kebesaran-Nya di alam semesta. Oleh karena itu, seorang Muslim tidak hanya dituntut untuk rajin beribadah, tetapi juga untuk merenungkan kehidupan dan mencari cara terbaik dalam membawa manfaat bagi sesama.