
Ilustrasi (Foto: Jernih.co)
Terasmuslim.com - Sayyidina Ali bin Abi Thalib, khalifah keempat dalam Khulafaur Rasyidin, wafat pada 21 Ramadan 40 Hijriyah setelah diserang oleh seorang pemberontak bernama Abdurrahman bin Muljam. Peristiwa tragis ini terjadi saat Sayyidina Ali sedang melaksanakan salat Subuh di Masjid Agung Kufah, Irak.
Abdurrahman bin Muljam, seorang dari kelompok Khawarij, menyusun rencana pembunuhan terhadap Sayyidina Ali dengan keyakinan keliru bahwa tindakannya akan membawa perubahan besar dalam kepemimpinan umat Islam. Pada pagi hari yang naas itu, ketika Sayyidina Ali sujud dalam shalatnya, Ibnu Muljam menyerangnya dengan pedang yang telah dilumuri racun. Serangan tersebut membuat Sayyidina Ali terluka parah.
Sayyidina Ali kemudian dibawa ke rumahnya, di mana ia dirawat oleh keluarganya dan para sahabat. Dalam keadaan sekarat, beliau tetap menunjukkan keteguhan iman dan kebijaksanaannya. Beliau berpesan kepada anak-anaknya, termasuk Hasan dan Husain, agar selalu menjaga ketakwaan, menegakkan keadilan, dan memperlakukan sesama manusia dengan kasih sayang.
Setelah dua hari dalam kondisi kritis, Sayyidina Ali akhirnya wafat. Kepergiannya membawa duka mendalam bagi umat Islam, terutama para sahabat dan keluarga yang mencintainya. Jenazahnya dimakamkan secara rahasia di suatu tempat yang kini diyakini berada di Najaf, Irak, demi menghindari upaya perusakan dari pihak-pihak yang memusuhinya.
Sayyidina Ali bin Abi Thalib dikenal sebagai sosok yang penuh kebijaksanaan, keberanian, dan ketakwaan. Sejak kecil, ia telah bersama Rasulullah SAW dan menjadi salah satu sahabat terdekat serta menantu beliau. Selama kepemimpinannya, Sayyidina Ali berusaha menegakkan keadilan dan mempersatukan umat Islam di tengah berbagai konflik yang terjadi pasca wafatnya Utsman bin Affan.
Sayyidina Ali bin Abi Thalib merupakan sosok istimewa dalam sejarah Islam. Ia lahir di tempat paling mulia, Ka`bah, sebuah kehormatan yang tidak dimiliki oleh siapapun sebelumnya. Hidupnya dipenuhi dengan perjuangan, kebijaksanaan, dan ketakwaan yang luar biasa.
Keistimewaannya tidak hanya terletak pada tempat kelahirannya, tetapi juga pada cara wafatnya. Sayyidina Ali menghembuskan napas terakhir di tempat yang suci, yakni Masjid Kufah, saat sedang menjalankan ibadah sholat Subuh. Dalam keadaan paling mulia, sujud kepada Allah, beliau diserang oleh seorang pemberontak yang mengakhiri hidupnya dengan kezaliman.
TAGS : Ali bin Abi Thalib Wafat Shalat Ramadan Sujud