• KEISLAMAN

Bahaya Fenomena Flexing Saat Pamer Kemewahan Merusak Keikhlasan

Yahya Sukamdani | Senin, 05/10/2026
Bahaya Fenomena Flexing Saat Pamer Kemewahan Merusak Keikhlasan Ilustrasi foto pamer barang-barang mewah

Terasmuslim.com - Fenomena memamerkan kekayaan dan gaya hidup di media sosial kini makin marak dilakukan oleh berbagai kalangan masyarakat.

Islam sejatinya memperbolehkan seseorang menampakkan nikmat Allah SWT sebagai wujud rasa syukur atau tahadduts bin ni`mah.

Allah SWT berfirman dalam Surah Ad-Dhuha ayat 11, "Dan terhadap nikmat Tuhanmu, hendaklah engkau nyatakan (dengan bersyukur)."

Namun, batas antara bersyukur dan perilaku pamer atau flexing sering kali sangat tipis di dalam hati manusia.

Ketika niat menampakkan nikmat bergeser menjadi keinginan untuk disanjung dan dibanggakan, di sinilah bahaya kesombongan timbul.

Rasulullah SAW secara tegas memperingatkan bahaya sifat sombong melalui sabdanya, "Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat seberat zarrah dari kesombongan" (HR. Muslim).

Perilaku pamer kemewahan tidak hanya merusak pahala amalan, tetapi juga berpotensi menyakiti perasaan orang lain yang kurang beruntung.

Al-Qur`an mengisahkan kehancuran Qarun dalam Surah Al-Qasas ayat 76 sebagai pelajaran nyata bagi orang-orang yang suka memamerkan hartanya.

Allah SWT melarang hamba-Nya bersikap angkuh sebagaimana firman-Nya dalam Surah Luqman ayat 18, "Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh."

Kebiasaan pamer di ruang publik juga dapat memicu penyakit ain serta mengundang rasa dengki dari orang yang melihatnya.

Rasulullah SAW mengingatkan agar kita menjaga rahasia keberhasilan melalui sabdanya, "Bantulah pencapaian hajat-hajatmu dengan menyembunyikannya, karena setiap orang yang memiliki nikmat itu diiri" (HR. Thabrani).

Seorang mukmin yang bijak akan senantiasa meneliti niat di dalam hatinya sebelum membagikan sesuatu ke media sosial.

Menyembunyikan kenikmatan demi menjaga perasaan sesama dan menghindari riya jauh lebih mulia daripada memamerkannya.

Sikap rendah hati atau tawadhu justru akan mengangkat derajat seorang hamba di sisi Allah SWT dan manusia.

Semoga Allah SWT senantiasa memelihara hati kita dari sifat sombong, riya, dan kegemaran memamerkan kenikmatan duniawi.