Ilustrasi foto hidup bertetangga
Terasmuslim.com - Era modern yang serba digital saat ini perlahan menyuburkan sikap individualisme yang menjauhkan manusia dari kepedulian sosial.
Banyak individu kini lebih asyik dengan dunia mayanya sendiri hingga mengabaikan lingkungan sekitar yang membutuhkan uluran tangan.
Islam hadir menawarkan obat penawar yang mujarab untuk mengikis egoisme akut ini melalui penguatan konsep persaudaraan yang utuh.
Setiap muslim sejatinya diikat oleh tali iman yang kuat, sehingga ego pribadi harus dilebur dalam kemaslahatan bersama.
Allah SWT menegaskan ikatan suci antar-sesama mukmin ini secara indah dalam Al-Quran Surah Al-Hujurat ayat 10.
"Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu yang berselisih dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat." (QS. Al-Hujurat: 10).
Ayat tersebut menjadi landasan runtuhnya sekat ego demi terciptanya harmonisasi kehidupan sosial yang saling menopang.
Rasulullah SAW juga mengibaratkan kesatuan umat Islam layaknya satu tubuh yang saling merasakan sakit jika ada bagian yang terluka.
Dalam sebuah hadist sahih, beliau menggambarkan kekuatan persaudaraan itu bagai sebuah bangunan kokoh yang saling menguatkan satu sama lain.
"Seorang mukmin dengan mukmin lainnya seperti satu bangunan yang saling menguatkan satu sama lain." (HR. Bukhari dan Muslim).
Oleh karena itu, sikap masa bodoh terhadap penderitaan tetangga atau kerabat sangat dicela dalam ajaran agama yang mulia ini.
Gerakan berjamaah, mulai dari shalat lima waktu hingga pengelolaan zakat, merupakan instrumen syariat untuk menghancurkan sifat individualistis.
Melalui kepedulian sosial yang nyata, seorang muslim dapat mengasah kepekaan hati dan mengikis sifat kikir yang merusak jiwa.
Allah SWT juga mengingatkan dalam Surah Al-Ma`un tentang celakanya orang yang mendustakan agama, salah satunya karena enggan menolong sesama.
"Dan enggan (memberikan) bantuan (dengan barang-barang yang berguna)." (QS. Al-Ma`un: 7).
Menghidupkan kembali budaya gotong royong dan saling menasihati dalam kebaikan adalah kunci utama menghadapi tantangan zaman modern ini.
Hanya dengan kembalinya semangat ukhuwah islamiyah, masyarakat yang madani, rukun, dan berkah dapat kembali kita wujudkan bersama.