Ilustrasi mengalami mimpi buruk
Terasmuslim.com - Dalam ajaran Islam, mimpi dipandang sebagai salah satu tanda kebesaran Allah yang dapat menjadi isyarat, kabar gembira, atau sekadar bisikan nafsu. Al-Qur’an menyinggung makna mimpi pada kisah para Nabi, seperti Nabi Yusuf AS yang diberi kemampuan menakwilkan mimpi. Allah berfirman dalam QS. Yusuf: 6 bahwa mimpi dapat menjadi bagian dari ilmu yang Dia ajarkan kepada hamba-hamba pilihan-Nya. Ini menunjukkan bahwa mimpi memiliki posisi penting, namun tetap harus disikapi dengan bijak.
Rasulullah SAW menjelaskan bahwa mimpi terbagi menjadi tiga jenis: “Mimpi baik dari Allah, mimpi buruk dari setan, dan mimpi dari diri sendiri.” (HR. Muslim). Hadis ini menjadi landasan utama dalam memahami kaidah mimpi. Mimpi yang baik disebut sebagai basyarah atau kabar gembira, sedangkan mimpi buruk adalah gangguan setan yang tidak layak ditakuti. Mimpi dari diri sendiri biasanya berasal dari pikiran atau kecemasan yang dialami saat terjaga.
Mimpi baik dianjurkan untuk diceritakan hanya kepada orang yang dipercaya atau mencintai kita. Rasulullah SAW bersabda, “Jika salah seorang dari kalian melihat mimpi yang disukainya, maka hendaklah ia bersyukur kepada Allah dan menceritakannya kepada orang lain.” (HR. Bukhari). Namun ketika mimpi buruk datang, Nabi SAW memerintahkan untuk meludah kecil ke kiri tiga kali dan memohon perlindungan kepada Allah agar mimpi itu tidak membahayakan. Beliau bersabda, “Jika kalian melihat sesuatu yang tidak disukai, maka berlindunglah kepada Allah dari kejahatan mimpi itu dan jangan menceritakannya kepada siapa pun.” (HR. Bukhari-Muslim).
Ada pula adab-adab penting yang harus dijaga. Di antaranya, tidak sembarangan menafsirkan mimpi tanpa ilmu, karena Nabi SAW mengingatkan bahwa takwil mimpi dapat mengikuti penjelasannya. Selain itu, seorang muslim tidak boleh menjadikan mimpi sebagai dasar hukum atau keputusan penting tanpa merujuk syariat, sebab mimpi bukan sumber hukum dalam Islam. Al-Qur’an dan hadis tetap menjadi pedoman utama, sementara mimpi hanya menjadi pelajaran atau penghibur dari Allah bagi hamba-Nya.
Dalam konteks keimanan, mimpi juga bisa menjadi penguat spiritual. Nabi SAW menyebut bahwa mendekati akhir zaman, mimpi orang beriman hampir selalu benar (HR. Muslim). Namun benar atau tidaknya mimpi tetap berada dalam pengetahuan Allah, dan seorang muslim dihimbau untuk menempatkan mimpi pada ruang yang proporsional: diterima sebagai tanda, tetapi tidak dijadikan patokan mutlak.
Dengan demikian, Islam memberikan kaidah yang jelas dalam memahami mimpi: menerima yang baik sebagai karunia, menolak yang buruk sebagai gangguan, menjaga adab dalam menceritakan mimpi, serta tidak menjadikannya dasar keputusan syar’i. Pandangan ini menegaskan bahwa mimpi adalah bagian dari kehidupan, namun tetap harus berada dalam koridor ajaran wahyu.