• KEISLAMAN

Salah Satu Ciri Orang Munafik, Malas Mendirikan Shalat

Yahya Sukamdani | Selasa, 21/10/2025
Salah Satu Ciri Orang Munafik, Malas Mendirikan Shalat Ilustrasi rapat shaf shalat

Terasmuslim.com - Shalat merupakan tiang agama dan ukuran keimanan seseorang. Namun, di balik ibadah yang begitu agung ini, Allah dan Rasul-Nya juga memperingatkan bahwa kemalasan dalam mendirikan shalat adalah salah satu tanda kemunafikan yang bersemayam di hati.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat, mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (ingin dipuji) di hadapan manusia, dan mereka tidak mengingat Allah kecuali sedikit sekali.”
(QS. An-Nisa: 142)

Ayat ini menunjukkan dengan jelas bahwa orang munafik melaksanakan shalat bukan karena keikhlasan, melainkan karena ingin dilihat orang lain. Hati mereka kosong dari zikir kepada Allah, sehingga shalat menjadi beban, bukan kebutuhan ruhani.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Shalat yang paling berat bagi orang munafik adalah shalat Isya dan shalat Subuh. Seandainya mereka mengetahui apa (keutamaan) yang ada pada keduanya, niscaya mereka akan mendatanginya walaupun harus merangkak.”
(HR. Al-Bukhari no. 657 dan Muslim no. 651)

Hadis ini menegaskan bahwa kemalasan menghadiri shalat berjamaah terutama Subuh dan Isya adalah salah satu ciri nyata dari kemunafikan dalam amal. Orang yang imannya lemah akan merasa berat untuk bangun, sedangkan orang beriman merasa ringan dan bahagia menunaikannya.

Kemalasan dalam shalat bukan sekadar soal fisik yang enggan bergerak, tetapi cerminan hati yang jauh dari Allah. Orang munafik tidak merasakan kedekatan spiritual dengan Sang Pencipta, sehingga ibadah hanya menjadi formalitas tanpa makna.

Sebaliknya, orang beriman mendirikan shalat dengan semangat dan cinta. Ia tahu bahwa shalat adalah saat berjumpa dengan Allah, tempat menenangkan jiwa, dan sarana memperbaiki diri.

“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar, dan sungguh mengingat Allah (shalat) itu lebih besar (keutamaannya).”
(QS. Al-‘Ankabut: 45)