Ilustrasi - orang-orang syiah (Foto: Ist)
Jakarta, Terasmuslim.com - Di ranah maya, sebuah diskusi menarik mencuat lewat kanal YouTube Anshoru Sunnah yang dilansir pada Minggu (17/8).
Topiknya bukan sembarangan, melainkan menyangkut salah satu ibadah paling sakral dalam Islam: haji. Perdebatan itu berawal dari tuduhan bahwa kalangan Syiah diduga mengalihkan jamaah mereka dari Mekah menuju kota suci Najaf dan Karbala.
Dalam salah satu video, menuding bahwa riwayat dalam literatur Syiah menyebut ziarah ke makam Imam Husein di Karbala bisa menyamai 2.000 kali umrah dan 2.000 kali haji. Narasi ini berpotensi membuat umat merasa tak perlu lagi menunaikan haji ke Baitullah.
Namun, tim Anshoru Sunnah membantah keras tuduhan itu. Mereka menyebut klaim tersebut tak berdasar, bahkan hanya “ocehan tanpa referensi.” Sebagai penegasan, mereka mengutip karya ulama Syiah terkemuka, Sayyid Sistani, dalam kitab Manasik al-Hajj.
Di sana ditegaskan bahwa haji adalah rukun Islam yang wajib dijalankan bagi yang mampu. Mengabaikannya tanpa alasan syar’i dianggap dosa besar, bahkan bisa mengarah pada kekafiran.
Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam Surah At-Taubah ayat 28, serta riwayat Imam Sadiq yang menekankan bahaya meninggalkan haji.
Lebih jauh, kanal tersebut juga mencoba meluruskan pemahaman soal pahala ibadah. Mereka menyinggung bahwa dalam banyak riwayat Sunni sendiri, amalan-amalan ringan bisa diganjar pahala setara haji.
Misalnya, salat Subuh berjamaah lalu berzikir hingga matahari terbit, atau keluar rumah untuk salat wajib dalam keadaan suci. Beberapa riwayat bahkan menyebut pahala tersebut bisa berlipat-lipat seperti haji dan umrah berkali-kali.
Mereka melempar pertanyaan tajam kepada pihak yang menuding Syiah musyrik. Jika benar demikian, mengapa jamaah Syiah tetap diperbolehkan masuk ke Masjidil Haram dan menunaikan haji di Mekah, padahal Al-Qur`an jelas melarang kaum musyrik mendekati rumah suci?
Perdebatan ini kembali mengingatkan kita bahwa perbedaan tafsir dan tradisi dalam Islam amatlah kompleks. Alih-alih memperuncing perbedaan, penting bagi umat untuk memahami rujukan masing-masing mazhab secara mendalam.
Pada akhirnya, baik haji di Mekah maupun ziarah ke Karbala, keduanya berangkat dari semangat mendekatkan diri kepada Allah dan meneladani perjuangan para tokoh Islam, termasuk sosok agung Imam Husein, cucu Rasulullah SAW.